9 Agustus 2015

Sebuah Catatan Tentang Perjalanan

"Where must we go, we who wander this wasteland, in search of our better selves?"

Setiap perjalanan memiliki perannya masing-masing. Kerap, perjalanan dihubungkan dengan pencarian yang baru. Bisa jadi untuk menemukan diri yang lebih baik, atau mungkin pula sekedar untuk menemukan warna dan nada yang berbeda.

Para pengelana berjalan ke tempat asing, menjadi persona anonim, berharap menemukan sudut pandang baru, mendapatkan inspirasi, bahkan menemukan hidayah. Fariduddin Attar, seorang sufi penyair terkenal, dikisahkan meninggalkan usaha toko obatnya untuk mengembara dari Semenanjung Arabia hingga anak benua India untuk mencari hakikat kehidupan.

Para migran meninggalkan kampung halaman mencari rezeki peruntungan di daerah baru untuk mengejar harapan dan pencapaian di tempat baru. Tahun ini, sejuta penduduk desa bermigrasi ke Jakarta yang juga menjanjikan sejuta harapan kesuksesan dan kesejahteraan.

Para pelancong mengemas koper dan backpacknya mengunjungi tempat pariwisata, melihat situs sejarah, menonton seni budaya setempat, mencoba kuliner lokal untuk dapat keluar dari rutinitas dan mendapatkan pengalaman baru. Juga sambil mengoleksi foto dan video perjalanan untuk kemudian menggungahnya ke media sosial dan memperbaharui gambar profil.

Bagi saya, perjalanan sering membangunkan kembali sisi spiritualitas. Mungkin karena perjalanan membuat kita melihat hal-hal baru, atau mungkin juga terlalu banyak duduk selama perjalanan membuat pikiran menjelajah ke mana-mana. 

Dalam sebuah perjalanan menempuh 15 ribu kilometer mengunjungi Twin Cities di benua sisi lain dunia, saya jadi ingat sebuah tulisan akhir film Mad Max: Fury Road terbaru:

"Where must we go, we who wander this wasteland, in search of our better selves?"

28 Maret 2015

The time of past and future

Time seems to slow down as it approaches us
And time feels to speed up as it leaves us
The past feels distant even when it's near
And the future seems assured even though it isn't..

2 Januari 2015

Makna Sebuah Titipan - WS Rendra

Sering kali aku berkata, ketika orang memuji milikku, bahwa:

sesungguhnya ini hanya titipan,
bahwa mobilku hanya titipan Allah
bahwa rumahku hanya titipanNya,
bahwa hartaku hanya titipanNya,
bahwa putraku hanya titipanNya,

tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya,
mengapa Dia menitipkan padaku?
Untuk apa Dia menitipkan ini pada ku?
Dan kalau bukan milikku,
apa yang harus kulakukan untuk milik Nya ini?

Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu
diminta kembali oleh-Nya?

Ketika diminta kembali,
kusebut itu sebagai musibah
kusebut itu sebagai ujian,
kusebut itu sebagai petaka,
kusebut dengan panggilan apa saja untuk melukiskan
bahwa itu adalah derita.

Ketika aku berdoa,
kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku,
aku ingin lebih banyak harta,
ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak popularitas,
dan kutolak sakit,
kutolak kemiskinan,
seolah semua “derita” adalah hukuman bagiku.

Seolah keadilan dan kasih-Nya harus berjalan seperti
matematika:
aku rajin beribadah,
maka selayaknyalah derita menjauh dariku,
dan nikmat dunia kerap menghampiriku.
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang,
dan bukan kekasih.
Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku”,
dan menolak keputusanNya yang tak sesuai keinginanku,

Gusti, padahal tiap hari kuucapkan,
hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah…

“ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja”

-WS Rendra-

31 Desember 2014

Waktu dan Ketergesa-gesaan

"Di dunia ini, satu detik adalah satu detik adalah satu detik. Waktu melaju maju dengan keteraturan yang sangat indah, dengan kecepatan yang sangat tepat, pada setiap sudut ruang. Waktu adalah penguasa tanpa batas. Waktu adalah kemutlakan."
- 28 April 1905, Einstein's Dreams, Alan Lightman 

Mengapa di dunia yang semakin sejahtera ini, semua orang semakin merasa miskin waktu? Kita tidak lagi cukup sabar menunggu orang lain, dan orang lain juga tidak lagi sabar menunggu kita. Semua tergesa-gesa dengan waktu.

Sejak jaman Revolusi Industri, konsep waktu mulai dikaitkan dengan uang. Time is money, time value of money, time-based currency merupakan istilah yang menggambarkan bagaimana waktu menjadi sumber daya yang disetarakan dengan uang. Ketika kekayaan manusia semakin berlimpah, waktu menjadi semakin berharga; dan tentunya terasa semakin langka.

Waktu selalu memburu-buru kita. Ketika bekerja, prioritas tugas disusun berdasarkan metode manajemen waktu; mana yang penting, mana yang mendesak, mana yang tidak. Tetap saja, tablet dan telepon membawa pekerjaan kantor ke rumah dan jalan pulang kita hampir tidak pernah melihat matahari. 

Juga pada ketika libur. Liburan kita harus menjadi sangat berkesan. Every moment should count. Begitu banyak hiburan yang perlu kita rasakan dalam waktu luang yang terbatas. Setiap satuan waktu harus digunakan untuk mengonsumsi kenikmatan yang berkualitas.

Sebastian de Grazia pada tulisannya "Of Time, Work and Leisure" tahun 1962 mengatakan kehidupan modern, yang berlimpah waktu luang dan uang, membuatnya jengkel. Semua orang berlari, berlari, dan berlari. Tetapi ke mana? Untuk apa? Orang-orang memperdagangkan waktu mereka untuk segala macam hal, tetapi apakah pertukaran itu layak?

Jauh sebelumnya, pada abad pertama, Lucius Annaeus Seneca melihat bagaimana banyak orang sibuk; semua orang tampaknya fana dalam ketakutan mereka, abadi dalam keinginan mereka, dan memboroskan waktu mereka. Dalam "On the Shortness of Life", ia mengatakan waktu di Bumi memang tidak pasti dan singkat, tetapi hampir semua orang memiliki cukup waktu untuk mengambil nafas dalam-dalam, merenung dalam beberapa pemikiran, sambil mencium beberapa tangkai mawar.

Seneca memberi nasihat pada saya, "Life, if well lived, is long enough."

Selamat Tahun Baru 2015.

***
Inspirasi: 
In search of lost time: Why is everyone so busy? - The Economists

9 November 2014

Do Not Go Gentle into That Good Night - Dylan Thomas



Do not go gentle into that good night,
Old age should burn and rave at close of day;
Rage, rage against the dying of the light.

Though wise men at their end know dark is right,
Because their words had forked no lightning they
Do not go gentle into that good night.

Good men, the last wave by, crying how bright
Their frail deeds might have danced in a green bay,
Rage, rage against the dying of the light.

Wild men who caught and sang the sun in flight,
And learn, too late, they grieved it on its way,
Do not go gentle into that good night.

Grave men, near death, who see with blinding sight
Blind eyes could blaze like meteors and be gay,
Rage, rage against the dying of the light.

And you, my father, there on the sad height,
Curse, bless, me now with your fierce tears, I pray,
Do not go gentle into that good night.
Rage, rage against the dying of the light.

-By Dylan Thomas-
-Watched in Interstellar (2014) -

15 September 2014

Top 10 Bassist Joke

August 7th, 2014

Where would the world be without jokes about musicians, especially bass players? Check out this collection and please take no offense if you happen to play bass:)
Q: Why couldn't the bassist get through the front door?
A: He couldn't find the key and didn't know when to come in!

Q: What's the difference between a camel and a bassist?
A: Camel can live without drinking for one week.

Q: Why is there a bassist in most bands?
A: To translate what's happening to the drummer.

Q: What's the range of a bass guitar?
A: About twenty yards, if you have a good arm.

Q: How do bassists begin most of their stories?
A: "Back when I used to play guitar..."

Q: What's the difference between a guitar player and a bass player?
A: The guitar player gets students, and the bass player gets gigs.

Q: How do you tell if a bass player is successful?
A: His girlfriend has a job.

Q: Why don't bass players play hide and seek?
A: Because people forget they exist and don't look for them.

Q: Why don't bassists tell blonde jokes?
A: Because they don't understand them.

Q: How many bassist jokes are there?
A: Just one - all the rest are true!

Source: www.ultimate-guitar.com

5 Juni 2014

Lagu Bongkar dalam Sebuah Panggung


Saya terkesan ketika mendengar sebuah grup band memainkan lagu Bongkar dalam sebuah panggung hiburan Jakarta Night Festival, yaitu acara yang digadang oleh pemerintah provinsi Jakarta tadi malam. Dan masyarakat ramai menikmatinya dengan gegap gempita.
Lagu Bongkar adalah sebuah lagu yang diciptakan dan dipopulerkan oleh group Swami. Lagu Bongkar merupakan kontroversi karena sarat dengan kritik terhadap pemerintah era orde baru. Dan pada era itu, kritik dalam sebuah lagu atau puisi dapat mencelakai penciptanya.
Saat ini seni yang kontroversial seperti lagu Bongkar telah diterima, bahkan dimainkan pada acara yang disusun oleh pemerintah. Adalah cermin bahwa melakukan kritik terhadap pemerintah adalah kenormalan baru. Dan istilah ‘pemerintah’ semakin kadaluarsa, berganti menjadi ‘pelayan masyarakat’.
Sungguh beruntung Indonesia hari ini. Sungguh beruntung..

11 Oktober 2013

Persimpangan

Persimpangan itu pasti terjadi, kadang nyata, kadang subtil. Ada persimpangan yang hadir dengan sendirinya, tapi ada juga yang hadir melalui rencana.
Persimpangan membuat kita melambat. Ia membuat kita mengingat lagi tujuan, meninjau kembali rute, mempertimbangkan alternatif. Kemudian ia membuat kita memutuskan.
Persimpangan mungkin membuat kita berharap debar untuk melintasinya. Ia mungkin juga membuat kita menghindar enggan melintasinya. Karena ia membuat kita memutuskan.
Persimpangan memang hanya bisa menawarkan kita lurus, atau kiri, atau kanan. Sebab Kendaraan Waktu tak pernah mengizinkan kita mundur, atau berhenti, atau berputar.
Karena hanya bisa lurus| kiri | kanan..... Maju. 

24 Agustus 2013

Tentang Kepemimpinan dan Hal-hal yang Tidak Pernah Habis

Kisah tentang kepemimpinan hampir tidak ada habisnya..

Itupun apabila mau tidak dikatakan bahwa hampir semua kisah adalah tentang kepemimpinan;
setidaknya ada satu faktor dan lainnya tentang kepemimpinan dalam setiap kisah.

Kisah kepemimpinan adalah bicara tentang: masalah dan identifikasinya, mencari alternatif dan pilihan solusi, merencanakan eksekusi, menginspirasi orang-orang, dan mendapatkan hasil.

Eh, isi semua kisah mirip-mirip seperti itu kan? Yah, hampir semua lah..

*end*

2 Juni 2013

Presentasi saya tentang "How biotechnology can improve life?" untuk Menrva Indonesia 24 May 2013:




17 November 2012

Celotehan tentang Bisnis (Awal)

Sebulan dua ini, saya mengalihkan fokus dan waktu belajar saya pada materi manajemen dan kepemimpinan bisnis. Saya mulai buka-buka lagi simpanan lama, macam buku Winning Jack Welch, hingga menggali materi web Harvard Business Review. Sampai berlangganan segala, lho..

      

Selain membaca, saya juga kadang menonton ceramah pemimpin bisnis macam Teddy Rahmat di Youtube. Bahkan, saya beberapa kali datang langsung pada diskusi bisnis macam Corporate Finance-nya Iwan Pontjowinoto di IA-ITB. Terus terang, rangkaian aktivitas ini memang membuat lumayan keblinger, atau istilah ABG pecinta diskusi: orgasme intelektual.

Teddy P. Rachmat, pemimpin bisnis terkemuka di Indonesia

Setelah menyelesaikan sekolah bisnis dan manajemen bulan lalu, saya makin mawas diri kalau pengetahuan dan pengalaman saya soal bisnis dan manajemen belum memadai. Boro-boro mau punya business wisdom alias kebijaksanaan, wong hasilnya belum kelihatan. Memang benar kata dosen saya bahwa kuliah week end hanya memberikan pelajaran pada kulitnya saja, sedangkan isinya harus dicari sendiri. Jadi, sudah waktunya nih mulai usaha cari isinya nih..

Pada beberapa posting, saya akan mendokumentasikan beberapa hasil perenungan dan inspirasi pada topik bisnis dan manajemen. Moga-moga tidak terlalu klise, tapi ga janji deh.. :)

2 September 2012

Denisova (juga) Nenek Moyang Kita

Setelah ditemukan bahwa genom manusia modern mengandung materi genetik dari Homo Neanderthal, beberapa hari ini sedang seru pula dibincangkan bahwa manusia modern juga mungkin memiliki materi genetik dari Homo Denisova. Jadi, kita ini merupakan blasteran turunan dari beberapa jenis manusia purba.
Homo denisova adalah  manusia purba (genus Homo) yang fosilnya ditemukan di gua Denisova, Rusia pada tahun 2008. Diperkirakan, Homo denisova mulai muncul di Asia sebelum manusia modern hadir. Setelah manusia modern (Homo sapiens) tiba dari Afrika, populasi Homo denisova cenderung menurun.
Hasil analisa genetik Homo denisova terbaru menunjukkan bahwa ada persamaan urutan genetik antara Homo denisova dengan manusia modern saat ini. Diperkirakan, Homo sapiens di masa lampau melakukan kawin silang dengan Homo denisova. Hal ini menyebabkan keturunan manusia modern saat ini memiliki sedikit jejak genetik Homo denisova pada genomnya.

Misalnya saja, Orang Papua diperkirakan memiliki sekitar 6% materi genetik Homo denisova. Orang Aborigin dan kepulauan Asia Tenggara juga memiliki jejak genetik Homo denisova. Di sisi lain, penduduk di Asia benua dan tempat lainnya tidak memiliki jejak genetik ini.
Fakta ini menghasilkan kesimpulan sementara bahwa Homo sapiens dan Homo denisova melakukan kawin silang di sekitar Asia Tengah dan bermigrasi hingga ke kepulauan Asia Tenggara dan Oceania. Keturunan blasteran yang tinggal di Asia benua kemudian digusur lagi oleh rombongan migran manusia modern selanjutnya yang datang dari Afrika.
Penelitian ini dapat dilakukan teknologi analisa genetik baru yang menggunakan sequencing platform Illumina GAIIx. Teknologi ini hanya membutuhkan seuntai materi genetik saja (biasanya membutuhkan untai ganda). Hal ini memungkinkan rekonstruksi urutan genom Denisova dari materi genetik yang sangat terfragmentasi.

Illumina sequencing
Sampel analisa genetik ini sendiri berasal dari fosil tulang jari seorang anak perempuan yang ditemukan pada gua Denisova. Berkat kondisi dan suhu yang mendukung di gua ini (rata-rata 0 derajat Celcius), sampel yang diambil memiliki kualitas yang sangat baik untuk analisa genetik.
***
Salah satu manfaat kawin silang antara Homo sapiens dan Homo denisova ini adalah perkembangan sistem imun manusia modern. Beberapa gen warisan Homo denisova menghasilkan sistem antigen leukosit pada manusia (human leukocyte antigen system/HLA). Sistem imun ini membantu pengenalan patogen dalam tubuh manusia secara lebih baik dan cepat.
Perkembangan teknologi analisa genetik juga semakin menjanjikan pada penelitian asal usul manusia modern. Homo denisova ini merupakan spesies manusia purba pertama yang ditemukan melalui analisa genetik (dulu memerlukan perbandingan anatomi). Peran genetika memang menjadi semakin penting dalam penelitian evolusi dan membuka keterbatasan temuan fosil dan arkeologi.
Ke depannya, teknologi analisa genetika ini dapat digunakan pada materi genetik manusia purba lain. Jangan-jangan, masih banyak nenek moyang kita lainnya selain Homo sapiens, Homo neanderthal, dan Homo denisova.
Ternyata bukan Cinta Laura saja yang blasteran, kita juga lho! *halah*

Sumber:
New DNA Analysis Shows Ancient Humans Interbred with Denisovans 
Who Were the Denisovans?

26 Agustus 2012

Neurosains dan Moralitas

Presentasi tentang Neurosains dan Moralitas yang tidak pernah dipresentasikan:


Mati dan Hidup Setelah Mati

Presentasi saya tentang kematian (dan kehidupan setelah kematian) dari sudut pandang saintifik untuk Menrva Indonesia bulan Oktober 2012:


Advancement in Medical Technology

Presentasi saya tentang perkembangan teknologi medis untuk Menrva Indonesia bulan April 2012:


15 Januari 2012

Benarkah Blog telah mati?

blog is dead

Sekitar akhir Desember 2011 hingga awal Januari 2012, jagat internet sempat dihangatkan dengan diskusi: Apakah blog telah mati? (1, 2, 3, 4, 5)

Saat ini, berbagai media sosial lain memang mulai berkembang pesat. Twitter menjadi trend media utama, Facebook masih dominan, meskipun trendnya mulai berkurang, dan Google+ menjadi pemain baru meskipun terasa lama. Friendster telah menjadi sejarah. Dan yang menjadi calon korban selanjutnya adalah: Blog.

Posting blog secara reguler semakin jarang saya lihat (termasuk posting blog saya sendiri). Tapi mungkin karena sayapun mulai jarang melakukan blogwalking, alias berjalan-jalan di blog orang lain. Saat ini, membaca satu posting blog lebih dari 600 kata terasa menjadi terlalu panjaaaang dan membosankan. Bandingkan jumlah ini dengan 140 karakter di twitter yang mungkin tidak lebih dari 20 kata. Bayangkan apalagi kalau sebuah twit dibandingkan dengan sebuah buku yang mencapai lebih dari 60 ribu kata!

Dunia internet sekarang telah terlalu penuh sesak dengan informasi (tulisan). Perhatian kitapun sudah sangat terfragmentasi. Terlalu banyak blog, berita, atau website yang tidak bisa lagi kita baca semua. Ditambah lagi dengan lini masa twitter yang makin padat dengan tambahan akun yang kita follow. Dalam waktu terbatas, orang lebih memilih media informasi yang cepat, kecil, dan sosial. Kita ingin memahami informasi secara cepat, dalam pecahan kecil, dan memungkinkan kita untuk bisa berinteraksi dengan orang lain.

Saat ini, gambar, suara, atau video semakin menjadi pilihan utama. Tumblr, infografik, dan Youtube memang menjadi media yang berkembang saat ini. Media suara dan video sajapun hanya bisa berdurasi optimal lima menit saja. Selebihnya, mereka jadi membosankan dan sulit dijangkau (baca: buffering).

Media tulisan sebagai media penyampai pesan mungkin akan berakhir. Seperti judul kolom Goenawan Mohamad, tulisan akan menjadi sekedar Catatan Pinggir. Mistis dan imajinatif, tetapi mungkin akan segera digantikan oleh media informasi lain. Kebanyakan orang mau yang jelas dan sederhana. Dan mungkin ini sebuah sebab lahirnya dogma..

“Dogma adalah simplifikasi ilmu. Ilmu adalah sofistikasi dogma..”

Sekarang ini, beberapa teman yang berminat dalam diskusi sains juga mulai jarang membaca buku. Mereka lebih senang menonton video, salah satunya koleksi video TED. Belakangan ini, saya juga sering mencari resensi buku di Youtube sebelum membaca bukunya itu sendiri. Beruntung kalau penulisnya telah memberikan kuliah yang diunggah ke Youtube. Hal ini saya lakukan pada buku The Lean Startup tulisan Eric Ries. Tinggal search di Google, maka videonya ditemukan. Akibatnya, saya malah tidak jadi membaca bukunya. Hehe..

Video kills the radiostars, Youtube kills the bookwriters?

Pernahkah membayangkan kalau suatu saat, proses transfer informasi sudah menggunakan sistem seperti di film Matrix Trilogy. Mau belajar Fisika Teori, tinggal mengunggah rumus Stephen Hawking dari hard disk ke otak. Mau belajar Tai Chi, juga tinggal mengunggah ke otak, langsung seperti Jet Li. Keren sekali!

Pada skenario masa depan seperti ini, kegiatan membaca bukan lagi kewajiban, melainkan hanya merupakan hobi semata. Sebuah hobi yang tidak efisien lagi tetapi tetap dilakukan untuk mengapresiasi sejarah. Mirip seperti koleksi motor Honda bebek C70 yang sempat ngetrend.

Belakangan ini, beberapa sahabat ingin menghidupkan kembali blog bersama yang telah mati suri. Posting terakhir adalah tahun 2006, itu pun cuma ucapan lebaran dan tahun baru di tengah kesunyian posting. Blog ini berisi tentang nostalgia masa perkuliahan, terutama kehidupan ‘keluarga’ lantai 4 kampus saya sekitar tahun 1996-2004. Memang setelah tahun 2005, tidak banyak yang perlu diceritakan. Masing-masing dari kita telah berbeda secara geografis, karier, dan pemikiran.

Dalam blog pribadi, saya memposting berbagai hal menarik yang baru saya temui. Kalau dulu isinya kebanyakan pribadi, belakangan malah jadi mirip artikel (sok) serius. Sekarang saya memang sengaja menulis posting blog yang menenggelamkan personalitas saya. Terus terang, saya merasa cukup jengah dengan ‘transparansi’ dunia internet. Memang tidak perlu sampai menjadi anonim, tapi juga tidak sampai seluruh kehidupan pribadi terpapar dalam media sosial.

Blog pribadi saya memang berevolusi, mulai dari cerita tentang diri sendiri, hingga menyangkut sejarah agama dan spiritualitas, dan sekarang banyak bicara soal sains dan perilaku manusia. Memang saat ini, sains banyak menjelaskan perilaku manusia, mulai dari yang (sedikit saja) rasional hingga yang (banyak sekali) tidak rasional. Saya jadi gemar menawarkan topik yang cenderung tabu dari perspektif lain, misalnya: korupsi, seks, alkohol, evolusi manusia, kehidupan hasil cipta manusia, atau agama sebagai budaya.

Beberapa waktu yang lalu, saya melihat posting blog dari Soleh Solihun. Dia mengatakan bahwa ngeblog itu ada tiga fase. Yang pertama, fase menulis karena diri sendiri. Biasanya isinya seperti diary pribadi dan diasumsikan jarang ada yang membaca. Fase kedua ialah menulis karena ingin mendapat perhatian orang. Karena sudah mulai dibaca orang, maka isinya mulai dipikirkan serius. Fase terakhir ialah menulis karena pesanan orang lain. Kalau ini sih blog berbayar..

Tapi biarlah blog dikatakan hampir punah. Mungkin sudah saatnya media ini mati. Toh tidak ada yang abadi (kecuali Turritopsis nutricula dan manusia, kalau penelitian telomerase dapat diaplikasikan.. Teteup!)

Tapi menurut saya, blog dapat berusia lama, ramai dikunjungi, dikomentari banyak orang kalau ia memiliki isi yang konversasional: blog yang mengajak bicara pembacanya dengan bahasa yang sederhana, aktual, dan segar. Saya menemukan hal ini di personal blog Henry Manampiring. Orang dengan akun twitter @newsplatter ini banyak membahas hal baru dalam persona joker-nya.

Saya menikmati personal blog Iman Brotoseno. @imanbr (twitter) ini pekerja seni yang memang blogger beneran. Menurutnya, blog pribadi ini adalah rumah yang berisi kumpulan gagasan, ide, harapan serta jurnal harian. Banyak sejarah versi alternatif dan perspektif menarik terhadap kejadian aktual, seperti masalah kebangsaan, kekerasan atas nama agama, dll. Dan yang pasti Iman adalah Soekarnois sejati!

Saya juga terkesan dengan blog Endah n Rhesa. Mereka (twitter: @endahnrhesa) adalah duo akustik Endah (gitar-vokal) dan Rhesa (bass) yang juga sekaligus suami-istri. Dalam posting blognya, Endah banyak bercerita tentang kisah dan aktivitas bandnya, plus sedikit cerita rumah tangga. Tersirat di dalamnya, saya juga menemukan kegairahan, sikapnya terhadap bermacam hal, bahkan mimpi-mimpi mereka. Saya jadi terinpirasi dan ikut tertular kegairahan mereka tuh. Dalam semalam saya baca habis posting dari awal hingga akhir!

Jadi, ada benarnya kata Band Nidji, “Mimpi adalah kunci untuk kita menaklukkan dunia.” Tapi juga jangan lupa: tuliskan mimpi anda di blog supaya bisa menular kepada pembaca..

***

PS: Terima kasih kepada teman telah membaca habis posting blog sepanjang  tepat seribu kata ini. Anda adalah sedikit dari orang yang terpilih! (dan mungkin sial. Hehe..)

12 Desember 2011

Pengaruh + Kekuasaan = Korupsi

"Nearly all men can stand the test of adversity,
but if you really want to test a man's character, give him power"
-
Abraham Lincoln-


Setiap membuka TL twitter, status facebook, koran, dan televisi, saya merasa informasi tentang korupsi berserakan di mana-mana. Misalnya saja, saat ini TL twitter saya sedang disesaki oleh penangkapan Nunun Nurbaeti oleh KPK. Kemarinnya, heboh perayaan hari antikorupsi dan ditemukannya saldo miliaran rupiah di rekening PNS muda. Kemarinnya lagi, ramai anggota DPR mengajukan hak interpelasi untuk remisi terpidana korupsi. Belum lagi terpilihnya Abraham Samad sebagai ketua KPK baru.

Hampir setiap hari ada berita baru tentang korupsi. Mungkin ini merupakan hal yang baik untuk upaya pemberantasannya. Selain penegakan hukum, norma budaya juga merupakan kontrol yang penting dalam pemberantasan korupsi. Jadi, nyinyir di twitter tentang korupsi, komentar pedas terhadap link berita korupsi di facebook, membalas email di milis tentang korupsi mungkin dapat menjadi upaya kita membangun norma budaya antikorupsi.

Bukannya apa-apa, beberapa hari lalu Natalia Soebagjo dari Transparency International Indonesia mengatakan bahwa kelas menengah cuek terhadap korupsi di Indonesia. Menurutnya, semangat antikorupsi lebih banyak disuarakan LSM dan belum tertular kepada lapisan kelas menengah secara menyeluruh. Danang Widiyoko dari ICW mengatakan bahwa kelas menengah cenderung apatis dan pragmatis terhadap pemberantasan korupsi. Hal ini perlu dikhawatirkan karena seharusnya kaum kelas menengahlah yang memegang kunci perubahan. Kepedulian antikorupsi memang perlu dibangkitkan lagi.

Salah satu cara meningkatkan kepedulian antikorupsi ialah dengan memperluas dan memperdalam pemahaman dampak korupsi terhadap masyarakat. Kelas atas dapat membayar pihak legislatif untuk mengubah regulasi dan kelas menengah juga dapat menyogok birokrat untuk layanan publik. Kaum miskinlah yang paling disengsarakan karena tidak memiliki pilihan. Memberikan sogok memang terlihat memiliki biaya rendah dibandingkan membuang waktu melayani birokrasi yang tidak efisien. Meskipun begitu, korupsi menimbulkan eksternalitas negatif seperti pajak yang tersembunyi. Ia meningkatkan biaya masyarakat secara keseluruhan.

Beberapa cara mengurangi korupsi antara lain melalui pengawasan top-down dan bottom-up. Benjamin Olken, ekonom asal Inggris, meneliti efektivitas kedua jenis upaya pengawasan korupsi ini di Indonesia. Melalui penelitian terhadap proyek Bank Dunia dalam pembuatan jalan di 608 kecamatan, Olken membandingkan antara perhitungan biaya proyek oleh pihak independen dengan biaya proyek yang dilaporkan pemerintah daerah. Kemudian Olken membagi dua kelompok perlakuan, sekelompok kepala proyek diberitahu akan ada audit dari Badan Pemeriksa Keuangan Pusat (top-down) dan pada kelompok lain diberitahu akan ada pengawasan dari masyarakat (bottom-up).

Hasil penelitian Olken menunjukkan bahwa pengawasan top-down ternyata lebih banyak menghemat biaya dibandingkan dengan pengawasan bottom-up. Lebih lanjut, penghematan biaya oleh audit pusat bahkan lebih besar dibandingkan biaya audit itu sendiri. Hasil ini juga sejalan dengan kesuksesan KPK sebagai lembaga terpusat dalam upaya pemberantasan korupsi dalam beberapa tahun terakhir. Sejalan dengan penelitian ini juga, beberapa pengadilan Tipikor luar Jakarta  yang kurang efektif menjerat koruptor perlu dipindahkan prosesnya ke Jakarta.

Shaffi Mather, seorang wirausahawan sosial dan pengacara dari India, melakukan inovasi yang menarik dalam upaya pemberantasan korupsi secara bottom-up. Terinspirasi oleh komedi fiksi sains tahun 80-an, Ghost Buster, Mather mendirikan Bribe Buster, sebuah bisnis pemberantasan korupsi di India. Idenya ialah apabila seseorang atau sebuah badan yang ingin berurusan dengan pemerintahan India, maka mereka dapat menyewa jasa Bribe Buster untuk mendampingi pengurusan ini agar tidak diperas atau diminta sogok. Bribe Buster akan menyediakan argumen hukum yang berlaku untuk menakuti oknum pemerintah yang meminta sogok ini.

Shaffi Mather: A new way to fight corruption

Misalnya saja, kalau seseorang ingin mengurus paspor di India, maka biasanya orang ini akan dimintai uang sogok sebesar 3000 rupee atau sekitar 520 ribu rupiah. Dengan menggunakan jasa Bribe Buster, ia hanya perlu membayar 200 rupee atau sekitar 35 ribu rupiah dan ia akan mendapatkan pendampingan untuk menjaga proses pengurusan paspor ini. Hasilnya ialah penghematan signifikan biaya pengurusan paspor dan korupsi pemerintahan dapat diberantas. Pada tahun 2009, sebanyak 42 klien telah berhasil dimenangkan oleh Bribe Buster dan biayanya lebih murah dibandingkan menuruti permintaan sogok pegawai pemerintah.

Saya sendiri sering merasa kesal melihat orang-orang yang sewaktu muda memiliki idealisme tinggi, tetapi ketika mereka berkuasa, idealisme mereka luntur. Beberapa di antara mereka bahkan terindikasi korupsi. Apakah memang mereka dari sananya tidak bermoral? Apakah mereka munafik? Ataukah lapangnya kesempatan menyebabkan mereka ‘terpaksa’ melakukan korupsi? Sebelumnya, aktivis mahasiswa angkatan '66 yang lantang berdemo menurunkan Soekarno tumbang satu demi satu, di sana sini terkena tuduhan korupsi. Saat ini, beberapa aktivis mahasiswa angkatan ‘98 yang dulu lantang berdemo menurunkan Soeharto juga mulai tumbang satu demi satu dalam jerat korupsi.

Lebih dari dua abad lalu, Lord Acton telah mengatakan bahwa kekuasaan cenderung korup. Power tends to corrupt. Belakangan, saya mengetahui dari studi perilaku manusia bahwa pernyataan Lord Acton ini memang merupakan perilaku manusia. Pengaruh dan kekuasaan tidak hanya memperluas kesempatan korupsi, tetapi menciptakan semacan rabun moral terhadap orang yang berkuasa tersebut. Joris Lammers dan Adam Galinsky mengadakan serentetan eksperimen pada beberapa relawan dan membaginya menjadi dua kelompok. Sekelompok diatur sedemikian sehingga keadaan pikiran merasa berkuasa, kelompok lainnya dibuat sehingga keadaan pikirannya merasa tidak berkuasa.

Pengujian sikap moral terhadap kedua kelompok ini menunjukkan bahwa kelompok relawan yang merasa berkuasa cenderung merasa lebih berhak melakukan kecurangan dibandingkan relawan yang merasa tidak berkuasa. Kesimpulan penelitian Lammers dan Galinsky ialah bahwa orang yang merasa berkuasa akan cenderung korup. Selain itu, kekuasaan juga meningkatkan kecenderungan sifat munafik dalam standar moralitas. Maksudnya, orang yang berkuasa berpandangan bahwa standar moral orang lain harus lebih tinggi dibanding standar moral dirinya sendiri. Sederhananya, kalau saya berkuasa, maka saya berhak melakukan korupsi, sedangkan orang lain yang tidak berkuasa, maka tidak berhak melakukan korupsi.

Saya jadi berpikir, kalau memang pada dasarnya pikiran manusia memiliki sirkuit perilaku seperti itu, artinya kita semua tidak kebal terhadap korupsi. Tidak peduli bagaimana jujurnya kita, bagaimana idealisnya kita, bagaimana tulusnya kita, ketika memiliki kekuasaan dan pengaruh, kita akan cenderung untuk melakukan korupsi. Mungkin itu temuan intrapersonal paling penting: menyadari bahwa saat memiliki pengaruh dan kekuasaan, kita akan munafik dan cenderung akan korup.

Manusia suci mungkin memang tidak pernah ada, tapi bagaimana dengan masyarakat adil? Saya tidak mau menyerah..