2 Januari 2015

Makna Sebuah Titipan - WS Rendra

Sering kali aku berkata, ketika orang memuji milikku, bahwa:

sesungguhnya ini hanya titipan,
bahwa mobilku hanya titipan Allah
bahwa rumahku hanya titipanNya,
bahwa hartaku hanya titipanNya,
bahwa putraku hanya titipanNya,

tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya,
mengapa Dia menitipkan padaku?
Untuk apa Dia menitipkan ini pada ku?
Dan kalau bukan milikku,
apa yang harus kulakukan untuk milik Nya ini?

Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu
diminta kembali oleh-Nya?

Ketika diminta kembali,
kusebut itu sebagai musibah
kusebut itu sebagai ujian,
kusebut itu sebagai petaka,
kusebut dengan panggilan apa saja untuk melukiskan
bahwa itu adalah derita.

Ketika aku berdoa,
kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku,
aku ingin lebih banyak harta,
ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak popularitas,
dan kutolak sakit,
kutolak kemiskinan,
seolah semua “derita” adalah hukuman bagiku.

Seolah keadilan dan kasih-Nya harus berjalan seperti
matematika:
aku rajin beribadah,
maka selayaknyalah derita menjauh dariku,
dan nikmat dunia kerap menghampiriku.
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang,
dan bukan kekasih.
Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku”,
dan menolak keputusanNya yang tak sesuai keinginanku,

Gusti, padahal tiap hari kuucapkan,
hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah…

“ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja”

-WS Rendra-

31 Desember 2014

Waktu dan Ketergesa-gesaan

"Di dunia ini, satu detik adalah satu detik adalah satu detik. Waktu melaju maju dengan keteraturan yang sangat indah, dengan kecepatan yang sangat tepat, pada setiap sudut ruang. Waktu adalah penguasa tanpa batas. Waktu adalah kemutlakan."
- 28 April 1905, Einstein's Dreams, Alan Lightman 

Mengapa di dunia yang semakin sejahtera ini, semua orang semakin merasa miskin waktu? Kita tidak lagi cukup sabar menunggu orang lain, dan orang lain juga tidak lagi sabar menunggu kita. Semua tergesa-gesa dengan waktu.

Sejak jaman Revolusi Industri, konsep waktu mulai dikaitkan dengan uang. Time is money, time value of money, time-based currency merupakan istilah yang menggambarkan bagaimana waktu menjadi sumber daya yang disetarakan dengan uang. Ketika kekayaan manusia semakin berlimpah, waktu menjadi semakin berharga; dan tentunya terasa semakin langka.

Waktu selalu memburu-buru kita. Ketika bekerja, prioritas tugas disusun berdasarkan metode manajemen waktu; mana yang penting, mana yang mendesak, mana yang tidak. Tetap saja, tablet dan telepon membawa pekerjaan kantor ke rumah dan jalan pulang kita hampir tidak pernah melihat matahari. 

Juga pada ketika libur. Liburan kita harus menjadi sangat berkesan. Every moment should count. Begitu banyak hiburan yang perlu kita rasakan dalam waktu luang yang terbatas. Setiap satuan waktu harus digunakan untuk mengonsumsi kenikmatan yang berkualitas.

Sebastian de Grazia pada tulisannya "Of Time, Work and Leisure" tahun 1962 mengatakan kehidupan modern, yang berlimpah waktu luang dan uang, membuatnya jengkel. Semua orang berlari, berlari, dan berlari. Tetapi ke mana? Untuk apa? Orang-orang memperdagangkan waktu mereka untuk segala macam hal, tetapi apakah pertukaran itu layak?

Jauh sebelumnya, pada abad pertama, Lucius Annaeus Seneca melihat bagaimana banyak orang sibuk; semua orang tampaknya fana dalam ketakutan mereka, abadi dalam keinginan mereka, dan memboroskan waktu mereka. Dalam "On the Shortness of Life", ia mengatakan waktu di Bumi memang tidak pasti dan singkat, tetapi hampir semua orang memiliki cukup waktu untuk mengambil nafas dalam-dalam, merenung dalam beberapa pemikiran, sambil mencium beberapa tangkai mawar.

Seneca memberi nasihat pada saya, "Life, if well lived, is long enough."

Selamat Tahun Baru 2015.

***
Inspirasi: 
In search of lost time: Why is everyone so busy? - The Economists

9 November 2014

Do Not Go Gentle into That Good Night - Dylan Thomas



Do not go gentle into that good night,
Old age should burn and rave at close of day;
Rage, rage against the dying of the light.

Though wise men at their end know dark is right,
Because their words had forked no lightning they
Do not go gentle into that good night.

Good men, the last wave by, crying how bright
Their frail deeds might have danced in a green bay,
Rage, rage against the dying of the light.

Wild men who caught and sang the sun in flight,
And learn, too late, they grieved it on its way,
Do not go gentle into that good night.

Grave men, near death, who see with blinding sight
Blind eyes could blaze like meteors and be gay,
Rage, rage against the dying of the light.

And you, my father, there on the sad height,
Curse, bless, me now with your fierce tears, I pray,
Do not go gentle into that good night.
Rage, rage against the dying of the light.

-By Dylan Thomas-
-Watched in Interstellar (2014) -