30 Agustus 2011
Research on Group Managing Resources
1. group and its purpose must be clearly defined
2. costs and benefits must be equally shared
3. decision-making must be by consensus
4. misconduct should be monitored
5. sanctions should start out mild and escalate only as needed
6. conflict resolution should be fast and fair
7. group must have authority to manage its affairs
8. relationship of group with others must be appropriately structured
(Based on work of Elinor Ostrom, winner of 2009 Nobel prize in economics)
Source:
Evolutionary theory can make street life better
15 Agustus 2011
Puasa dalam Perspektif Biologi
Ramadan selalu spesial bagi saya. Posting blog saya beberapa tahun terakhir banyak sekali bercerita tentang rangkaian ritual tahunan Islam ini. Saya sempat berceloteh tentang kekhawatiran dan protes terhadap ritual Ramadan, hingga fenomena Ramadan khas Indonesia: mudik.
Tradisi Ramadan memang tidak pernah habis melahirkan bermacam inspirasi. Apakah lapar dan haus akibat puasa memicu kreativitas? Ataukah rangkaian Ramadan secara lebih luas-lah yang sebenarnya menghadirkan berbagai ide liar? Ramadan di Indonesia memang tidak lagi sesederhana ibadah puasa saja, melainkan telah berevolusi menjadi dinamika sosial ekonomi tersendiri.
Menyambut Ramadan tahun ini, saya mengamati ritual puasa dalam perspektif biologi. Tamasya intelektual saya sempat menemukan sudut pandang biologi tentang ritual umat Islam sedunia ini.
Ramadan memang bukan hanya punya umat Islam saja. Para saintis di seluruh dunia juga punya hajat tersendiri pada bulan suci umat Islam ini. Melalui ritual puasa Ramadan, para saintis mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi dalam tubuh manusia.
Ramadan menjadi fenomena penting untuk para peneliti dalam mempelajari ritme circadian (jam biologis). Orang yang melakukan Puasa Ramadan secara sengaja mengubah ritme biologis tubuh mereka. Pengetahuan tentang perubahan mendadak ini akan membantu pemahaman mekanisme kerja tubuh manusia secara lebih komprehensif.
Salah satu aspek penting dalam puasa adalah menahan lapar dan dahaga mulai dari terbit hingga terbenam matahari. Artinya, ketika berpuasa tubuh tidak mendapatkan pasokan suplai makan dan minum selama lebih dari 12 jam. Untuk merespon hal ini, fisiologi tubuh akan menyesuaikan diri terhadap perubahan jadwal makan-minum dan pola tidur ini.
Selama bulan Ramadan, umumnya sahur dilakukan tengah malam menjelang waktu subuh. Pada bulan lain, biasanya masa ini digunakan untuk tidur. Perubahan jadwal biologis ini akan menciptakan perubahan ritme tidur, hormon, dan bahkan kadang suasana hati (mood). Perubahan ritme tidur akan menyebabkan pengurangan fase tidur slow-wave dan rapid eye movement (REM) yang berfungsi dalam proses pemulihan/penyegaran.
Oleh karena itu, orang yang melakukan sahur menjelang subuh biasanya mengalami kantuk di siang hari. Kalau tidak percaya, silakan membuktikan sendiri dengan mengunjungi mesjid/mushalla terdekat selepas jadwal Dzuhur di bulan Ramadan. Saya jamin Anda akan melihat banyak tubuh yang berserakan di sana..
Dalam kitab Ihya Ulumuddin karya Imam Ghazali terdapat hadits bahwa “Tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah”. Terlepas dari perdebatan bahwa hadits ini dhaif/lemah, pernyataan ini bisa jadi merupakan respon para ulama terhadap fenomena perubahan mendadak pada jadwal biologis manusia normal yang menyebabkan penurunan produktivitas ini.
Ritual puasa juga secara signifikan menurunkan ketangkasan fisik, misalnya pada ketahanan otot atau periode respon dalam waktu lama. Penelitian pada pemain sepak bola menemukan bahwa ketika berpuasa, kemampuan lari sprint dan kelincahan dalam waktu singkat memang tidak mengalami perubahan. Meskipun begitu, kapasitas aerobik, ketahanan dan kemampuan lompat atlet dalam jangka waktu lebih dari 30 menit akan turun secara signifikan.
Kajian sains tentang hubungan puasa dengan aktivitas fisik mestinya akan makin menggeliat setahun ke depan. Pasalnya, Olimpiade London 2012 akan bertepatan dengan jatuhnya bulan Ramadan. Awal Ramadan tahun depan diperkirakan akan jatuh pada 21 Juli 2012, seminggu sebelum Olimpiade London dimulai (dan hingga selesai). Apalagi diperkirakan bakal ada 3000 atlet beragama Islam akan berpartisipasi pada pesta olahraga dunia ini.
Salah satu alternatif menarik untuk tetap puasa selama aktivitas fisik yang intensif ini adalah sebuah kajian sains nutrisi yang meneliti bagaimana cara ‘membohongi’ otak ketika sedang puasa. Penelitian ini menunjukkan bahwa berkumur dengan cairan karbohidrat ternyata secara signifikan dapat meningkatkan performa para atlet. Air gula ternyata mengaktivasi area otak yang bertanggung jawab terhadap motivasi dan ganjaran.
Penelitian ini memberikan tugas lagi kepada ulama Islam untuk merumuskan kembali hukum puasa. Bagaimanakah hukum berkumur dengan air gula saat berpuasa? Apakah membatalkan puasa? atau hukumnya makruh? atau selama masa Olimpiade malah dianjurkan, mengingat membela negara hukumnya wajib?
Di sinilah tergambar bagaimana dinamisnya tugas para sarjana agama melayani pertanyaan umat agamanya. Tugas sarjana agama tidak sesederhana menilai hukum halal/haram rebonding. Mereka juga harus mengerti ilmu secara luas, termasuk sains, untuk menjawab tantangan umat masa kini.
***
Meskipun eksperimen laboratorium membuktikan bahwa puasa menurunkan performa fisik, sangat jarang orang yang berpuasa menyatakan bahwa ritual ini menurunkan prestasi. Banyak pelaku puasa merasa lebih fokus, bahkan memberikan keunggulan dibanding periode lain.
Sejarah Islam sendiri mencatat bahwa kemenangan pada perang Badr terjadi ketika Nabi Muhammad dan sahabat berpuasa pada Ramadan tahun kedua Hijriah. Proklamasi Indonesia juga terjadi pada bulan Ramadan, ketika Bapak pendiri bangsa ini sedang melaksanakan ibadah puasa.
Dalam ranah sains, analisa tentang hubungan korelasi dan kausalitas antara puasa dan performa masih diteliti lebih lanjut. Secara umum, pengetahuan baru akan meningkatkan pemahaman kita sendiri tentang mekanisme tubuh manusia. Secara praktis, Olimpiade tahun depan akan menunggu penelitian ini.
Mohamed “Mo” Sbihi, seorang atlet dayung muslim asal Inggris, memutuskan akan menunda puasa pada Olimpiade London 2012. Dia bukan orang awam. Mo adalah muslim yang taat. Dia juga menyandang pendidikan tinggi dengan disertasi tentang performa atlet tanpa makan dan minum. Mo mengetahui ada trade-off antara puasa dan potensi penurunan performanya. Dan dia memutuskan akan menunda puasa Ramadannya tahun depan.
Mo tidak yakin apakah Imam masjidnya akan menyetujui keputusannya untuk menunda Ramadhan. Ia mengatakan, "Cara saya melihatnya seperti itu. Selama aku cepat, saya melakukannya di mata Allah, bukan di mata masjid lokal saya. Aku mungkin salah. Tapi, itu adalah cara saya melakukannya.”
Dalam posisinya, Mo berijtihad menggunakan pengetahuannya di bidang sains. Bagaimana kalau Anda yang berada pada posisinya?
Inspirasi:
Labs explore health effects of Ramadan
How Muslims can win Olympic gold during Ramadan
30 Juli 2011
Budaya Inka, Borobudur, dan Fragmen Kisah Ibrahim
Seratus tahun lalu, tepatnya 24 Juli 1911, Hiram Bingham dari Universitas Yale menemukan situs Machu Picchu di Peru. Seluruh arkeolog dan petualang dunia terkesima dengan keindahan peninggalan budaya Bangsa Inka ini. Machu Picchu, Si Kota Inka yang hilang, memang tidak sempat tersentuh oleh penaklukkan Bangsa Spanyol dan tidak tercatat dalam referensi manapun.
Bangsa Inka merupakan imperium terbesar di belahan dunia Barat sebelum Spanyol menaklukkan mereka pada abad ke-16. Mereka memiliki peradaban maju seiring dengan perkembangan arsitektur, teknologi pangan dan logam. Begitu canggihnya, Bangsa Inka telah berhasil membuat infrastruktur jalan terbesar dan mengentaskan kelaparan dari total populasi 10 juta orang. Machu Picchu adalah karya Inka dan merupakan tempat peristirahatan raja. Bingham menemukan kota ini setelah empat abad Inka ditaklukkan oleh Spanyol.
Adalah sebuah ironi ketika Bangsa Inka dianggap sebagai sebuah kebudayaan jaman perunggu besar yang gagal memiliki sistem penulisan. Mereka tidak memiliki peninggalan tulisan dengan huruf atau simbol di kertas atau media dua dimensi lain seperti layaknya standar modern. Para antropolog mengatakannya sebagai “Paradoks Inka.”
Meskipun begitu, Bangsa Inka mengembangkan caranya sendiri. Mereka menggunakan khipu, konfigurasi tali dengan simpul warna-warni, sebagai media penyimpanan informasi. Para ahli meneliti apakah khipu merupakan sistem mnemonic, sebuah penanda agar pembuatnya dapat mengingat suatu informasi? Ataukah merupakan suatu sistem penulisan, standar penyimpanan informasi yang bisa dibaca secara luas bagi orang yang mengerti susunannya?
Awalnya khipu dianggap sebagai sistem mnemonic, mirip abacus yang digunakan sebagai alat pengingat berhitung yang ditemui pada peradaban besar lainnya. Belakangan, antropolog menemukan bahwa sebagian konfigurasi tali-simpul ini memiliki sifat non-aritmatik. Hal ini memberikan kemungkinan bahwa beberapa bagian khipu merupakan bentuk narasi/cerita. Beberapa teori mengusulkan bahwa khipu merupakan sistem tulisan tiga dimensi yang canggih. Dan ia unik, hanya ada pada peradaban Inka.
Ketika Francisco Pizarro dan para conquistador Spanyol tiba tahun 1532, mereka kagum dengan organisasi masyarakat Inka. Dalam pencatatan informasi, pihak kerajaan menggunakan jasa khipukamayuq, sebuah kasta khusus yang mampu membaca khipu. Kasta ini menyimpan catatan tentang sensus, pajak, ritual agama, organisasi, kalender, silsilah, dan segala macam informasi kenegaraan. Dalam beberapa sejarah catatan pengadilan, Khipu Inka bahkan terbukti lebih akurat dibandingkan catatan para akuntan Spanyol.
Awalnya, para penakluk Spanyol lunak terhadap penggunaan khipu pada masyarakat Inka. Respon mereka kemudian berubah sejak Inkuisisi Spanyol. Pada tahun 1583, Gereja Katolik Roma bertitah bahwa khipu merupakan pekerjaan setan. Khipu yang merepresentasikan agama Inka dianggap sebagai berhala dan hal ini menghalangi konversi agama.
Pihak Gereja kemudian memerintahkan penghancuran seluruh khipu Inka. Sejak saat itu, para conquistador memusnahkan hampir semua khipu berikut seluruh informasi budaya Inka yang terdapat di dalamnya. Saat ini hanya tersisa sekitar 831 khipu tersebar seluruh dunia.
***
Sangat disayangkan bagaimana sistem tulisan tiga dimensi pada khipu telah punah. Juga disayangkan bahwa keputusan penghancuran ini dimotivasi oleh pemahaman eksklusif keimanan. Tetapi sejarah pemusnahan budaya tidak hanya pada organisasi agama. Ia terjadi pula pada semua bentuk otoritas yang memiliki pemahaman ekslusivisme: bahwa kami dan hanya kami yang benar; selain kami adalah tidak benar dan harus dimusnahkan.
Peristiwa pemusnahan atas nama ekslusivisme terjadi di seluruh dunia. Situs Majapahit yang beragama Hindu saat ini relatif tidak berbekas dihancurkan oleh kerajaan-kerajaan Islam sesudahnya. Di Pakistan, Militan Taliban menghancurkan situs bersejarah kerajaan Gandhara yang beraliran Budha Mahayana. Beberapa hari ini, Norwegia yang terkenal sebagai masyarakat yang toleran mengalami musibah pengeboman yang dilatarbelakangi oleh sentimen Islamofobia.
Kita patut bersyukur bahwa Candi Borobudur terkubur di bawah abu vulkanik. Borobudur, seperti Machu Picchu, baru ditemukan belakangan. Thomas Stamford Raffles, Gubernur kolonial Inggris yang juga pemerhati sejarah Jawa, memerintahkan penggalian Borobudur pada abad ke-19. Saat ini, situs peninggalan dinasti Syailendra yang beraliran Budha Mahayana ini telah direstorasi dan menjadi situs warisan dunia UNESCO.
Bila Borobudur ditemukan pada waktu yang tidak tepat, mungkin kemegahan situs budaya ini tidak sempat kita lihat saat ini. Pada tahun 1985, Husein Ali Al-Habsyi dan kelompoknya meledakkan beberapa stupa Candi Borobudur. Pengadilan mengganjar hukuman penjara seumur hidup kepadanya karena perusakkan situs budaya ini.
***
Dalam sebuah obrolan afterhour, saya terkejut dengan kritik seorang teman muda yang cerdas. Ia mempertanyakan mengapa kisah klasik dalam tradisi agama mengizinkan perusakkan milik orang lain karena urusan keimanan. Kawan multitalenta ini mengangkat topik tentang kisah Ibrahim, bapak tiga agama monoteisme: Yahudi, Kristen, Islam.
Dalam tradisi Islam, dikisahkan bahwa Nabi Ibrahim diperintahkan untuk menghapuskan berhala dan menyebarkan ajaran monoteisme. Awalnya, Ibrahim menasihati bapaknya Azar yang berprofesi sebagai pemahat patung berhala. Ibrahim muda menjelaskan bahwa penyembahan berhala merupakan perbuatan berdosa dan akan disiksa oleh Allah. Merasa profesi dan mata pencahariannya terusik, Azar menolak paham ini dan mengusir Ibrahim.
Upaya Nabi Ibrahim mengajak masyarakat Kaanan mengikuti ajaran monoteisme relatif gagal. Masyarakat Kaanan abai terhadap ajakan Ibrahim karena terbiasa dengan budaya warisan turun temurun. Ketika Ibrahim merasa upaya ajakannya tidak berhasil, ia menyusun strategi lain.
Ketika masyarakat Kaanan melakukan tradisi berkemah di padang terbuka, Ibrahim menyelinap ke kota dan menghancurkan patung-patung berhala milik mereka. Karena perbuatannya ketahuan, pengadilan memutuskan Ibrahim harus dihukum dengan cara dibakar hidup-hidup. Berkat mukjizat pertolongan Allah, Ibrahim kemudian selamat dari panas api. Ia keluar dalam keadaan selamat.
Fragmen kisah Ibrahim dan mukjizat tahan panas api dulu saya terima tanpa pertanyaan lebih lanjut. Kisah heroisme untuk keimanan selalu mempesona bagi saya. Tapi terus terang saya terkejut oleh kritik teman muda ini.
Dengan gaya ABGnya, teman muda ini bertanya: Mengapa kisah perusakkan patung milik orang lain atas nama keimanan dapat dibenarkan? Otoritas moral macam apa yang mengizinkan terjadinya penghancuran budaya? Pada batas mana budaya dan berhala dapat dipisahkan sehingga yang pertama layak dikonservasi dan yang terakhir wajib dimusnahkan?
Ketika membaca sejarah Machu Picchu dan khipu, saya teringat kembali perasaan sunyi dalam riuh obrolan seru malam itu. Meskipun obrolan terus berganti topik, tetapi pikiran saya tetap berhenti pada pertanyaan tentang kisah ini. Mungkin memang pergulatan ajaran masa lalu dan pikiran pribadi memang tidak boleh usai. Katanya itulah pencerahan..





