27 Juni 2011

Uang: Keserakahan, Waktu, dan Kehilangan

Sebulan terakhir ini saya terpesona, kecanduan, dan juga mungkin overdosis dengan kajian finansial atau keuangan. Saya rasa orang yang berkecimpung dalam dunia finansial adalah orang yang sangat pintar: kreatif sekaligus rasional. Mereka adalah orang yang mampu menciptakan inovasi di bidang keuangan sekaligus membangun justifikasi rasional terhadap hasil kreasinya tersebut.

Untuk beberapa hal yang tidak saya pahami (dan mungkin tercetak dalam alam bawah sadar), uang (bersama seks dan kekuasaan) seringkali diasosiasikan dengan kemudahannya dekat dengan kejahatan. Mungkin karena uang sendiri memiliki daya ungkit pada aktivitas manusia, baik dan buruk. Kejahatan keuangan yang besar memiliki dampak global dan mengganggu seluruh sendi kehidupan masyarakat.

Kita dapat menjumpai Warren Buffet, sang investor gaek yang memiliki kekayaan sekitar 50 miliar dollar tahun 2011 ini, sekitar sepertujuh nilai kapitalisasi di Bursa Efek Indonesia. Tahun 2006, Buffet mengumumkan rencana untuk memberikan 85% dari nilai kekayaannya untuk amal senilai sekitar 30,7 miliar dollar. Sumbangan Buffet merupakan nilai amal terbesar dalam sejarah.

Di ekstrim lain, kita juga menjumpai Bernard Madoff, hedge fund manager New York yang juga merupakan legenda Wall Street. Madoff terbukti melakukan penipuan dengan skema Ponzi terbesar di dunia dan dihukum 150 tahun. Kerugian para nasabah termasuk keuntungan palsu diperkirakan bernilai lebih dari 18 miliar dolar.

Dinamika peradaban manusia harus diakui memang bergerak pada dimensi "tahta, harta, wanita" (sebuah istilah yang tidak sensitif gender). Sejarah menunjukkan kemaju-munduran suatu peradaban sering kali terkait dengan permasalahan seputar ketiga hal tersebut. Moralitas pun membangun nilai-nilai yang menjadi referensi kepantasan masyarakat pada tiga urusan manusia ini.

Sejarah Islam menunjukkan pada perang Uhud kaum Mukmin sudah hampir menang. Kaum Quraisy Mekah sempat terdesak mundur. Tetapi hal ini justru berbalik saat para pemanah Mukmin yang diperintahkan berjaga di puncak bukit Uhud oleh Nabi Muhammad meninggalkan pos jaganya karena tergoda merampas harta perkemahan Quraisy di kaki bukit. Khalid bin Walid, sang panglima Quraisy, akhirnya dapat menyerang balik sehingga kaum Mukmin kalah perang. Godaan harta-lah yang membuat kaum mukmin mengalami kekalahan di perang Uhud.

Oleh karena itu, asketisme mengajari manusia untuk menjauhi dunia fana, yang dalam bahasa praktis sering disebut: kekuasaan, kekayaan, dan seks. Ajaran agama membangun fiqh yang mengatur ketat urusan yang terkait ketiga hal tersebut. Bahkan, hukum kenegaraan pun mengganjar berat pada pelanggaran pada ketiga urusan ini.

Tapi, satu hal yang justru saya pelajari pada kajian keuangan adalah kejujuran tentang motif pribadi dan upaya mempertemukan kepentingan pihak terkait. Satu pihak jujur ingin mendapatkan sebanyak mungkin. Pihak lain juga ingin mendapatkan sebanyak mungkin dan tidak mau mengalami kehilangan. Maka negosiasi menjadi penting dan idealnya, negosiasi bisa membuat semua pihak merasa mendapatkan keuntungan. Sebuah idiom yang mungkin janggal tapi saya dapatkan: serakah tapi beradab.

Hal lain yang juga saya pelajari pada kajian keuangan adalah sensitivitas terhadap waktu. "Time is money" adalah jargon yang sering saya dengar sejak dulu, tetapi menjadi lebih bermakna belakangan ini. Konsep waktu bahkan menjadi hal yang lebih penting dalam kajian keuangan: uang bisa dicari, tetapi waktu adalah komoditas yang tidak tergantikan. Jadi, waktu lebih penting daripada uang - "Time is more important than money".

Terakhir, hal yang saya pelajari adalah bahwa kalau mau untung berarti harus siap rugi. "Return equals to risk" adalah juga konsep yang penting dalam kajian keuangan. Dalam setiap usaha, hasil yang mungkin didapatkan adalah risiko yang juga mungkin terjadi. Jadi, kalau takut kehilangan, jangan coba-coba ingin mendapatkan. Dan kalau sudah mendapatkan, bersiaplah untuk kehilangan.

Setiap guru memiliki kebijaksanaannya sendiri. Setiap murid memiliki pemahamannya sendiri. Dan setiap kebijaksanaan adalah pemahaman sendiri, yang kebetulan terdengar indah, dan disepakati bersama.

***

PS: Saya merasa pidato Gordon Gekko (Michael Douglas) pada film Wall Street (1987) tentang keserakahan lebih ‘jujur’ dibandingkan pidatonya pada film Wall Street: Money never sleeps (2010).

 

Gordon Gekko on Wall Street (1987)

 

Gordon Gekko on Wall Street 2: Money never sleeps (2010)

2 komentar:

Satriyo Wibowo mengatakan...

Wah, mendalam sekali pemaknaan uang bagi dirimu, Cok. Ini masih akibat lanjutan dari traumatis ujian kemarin atau ada hal-hal lain di luar kuliah yang membangkitkan alam sadarmu nih ;)

cokhy mengatakan...

Haha, emang agak stress sih.. Tapi tidak mengurangi pemaknaannya :)