Tampilkan postingan dengan label Refleksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Refleksi. Tampilkan semua postingan

19 November 2010

Tak Ada Air yang tak Bening

Negara menghendaki stabilitas. Masyarakat menghendaki ketertiban. Sejarah menghendaki keamanan. Jiwa menghendaki ketenangan. Hati menghendaki keheningan. Mental menghendaki endapan. Dan seluruh kehidupan ini, di ujungnya nanti, menghendaki ketentraman, keheningan, kemurnian. Karena itu, agama menganjurkan kembali ke fitri.

Kita berdagang, berpolitik, berperang, bergulat, bekerja banting tulang, bikin rumah, bersaing dengan tetangga. Yang tertinggi dari itu semua dan yang paling dirindukan oleh jiwa, adalah "air bening hidup". Hidup bagai gelombang samudera. Hidup bergolak. Segala pengalaman perjalanan

Anda adalah arus air sungai yang mencari muaranya.

Masa muda melonjak-lonjak. Tapi masa muda berjalan menuju masa senja. Dan masa senja bukanlah lonjakan-lonjakan, melainkan ketenangnan dan kebeningan. Maka, lewat naluri ataupun kesadaran, setiap manusia mengarungi waktu untuk pada akhirnya menemukan "air bening".

Ada orang yang dipilihkan oleh Tuhan atau memilih sendiri untuk mengembara langsung ke gunung-gunung dan menemukan sumber air murni. Orang lain menunggu saja saudaranya pulang dari gunung untuk dikasih secangkir kebeningan. Orang yang lain lagi menjumpai dunia adalah kotoran, maka ia ciptakan teknologi untuk menyaring kembali air itu dan menemukan kebeningannya.

Sementara ada orang yang hidupnya menyusur sungai, parit-parit kumuh, got-got, kubangan-kubangan. Sampai akhir hayatnya tak mungkin ia memilih sesuatu yang lain, karena mungkin tak punya kendaraan, tak punya kapal, bahkan tak punya sendal untuk melindungi kakinya dari kotoran-kotoran. Ketidakmungkinan itu mungkin karena memang 'dipilihkan' oleh Yang Empunya Nasib, tapi mungkin juga didesak oleh kekuatan-kekuatan zaman yang membuatnya senantiasa terdesak, terpinggir, dan tercampak ke got-got.

Bagaimana cara orang terakhir ini menemukan air bening?

Di dalam sembahyangnya, permenungannya, penghayatannya, kecerdasannya serta kepekaan hatinya. Ia tahu tidak ada air yang tak bening. Semua air itu bening. Tidak ada "air kotor", melainkan air bening yang dicampuri oleh kotoran.

Dengan menemukan jarak antara kotoran dengan air bening, tahulah ia dan ketemulah ia dengan sumber kebeningannya. Ia terus hidup di got-got, dan justru kotoran-kotoran itu makin menyadarkannya pada keberadaan air bening dalam got-got.

Adakah makna hal itu dalam kehidupan Anda?

clip_image002

Emha Ainun Nadjib

"Secangkir Kopi Jon Pakir"

29 Desember 2009

Al-Quran: Antara Lisan dan Tulisan (Bagian 2)

Mushaf Utsman Al Quran abad ke-20

Saat ini, teks Al-Quran dapat dikatakan telah final, semua umat Islam, mulai dari kaum Sunni, Syiah, dan lainnya sepakat untuk menggunakan Al-Quran versi final yang saat ini beredar. Kita juga mengimani kekitabsucian Al-Quran yang diturunkan sebagai petunjuk bagi kehidupan manusia. Meskipun begitu, Al-Quran sebagai bundelan kitab saja tidak akan memberi manfaat yang signifikan kehidupan manusia itu secara otomatis. Manusialah yang harus berinisiatif melakukan interaksi dan dialog dengan Al-Quran untuk mengali keteladanan yang baik yang ada di dalamnya.

Di dunia dengan kebudayaan lisan yang dominan, ada beberapa kritik terhadap Al-Quran yang telah menjadi kebudayaan tulisan ini. Misalnya saja pada Kerajaan Mali Kuno di Afrika yang berkembang melalui tradisi lisan. Melalui griot, syair puisi khas Mali yang berisi pesan turun temurun, banyak ungkapan yang memprotes ‘matinya’ ajaran yang mulai berhenti pada tulisan. Dalam pandangan bangsa Mali, penyampaian ajaran melalui tulisan dipandang lebih rendah dibandingkan melalui ajaran lisan dan kisah yang dirasakan lebih ‘hidup’.

Sundiata Keita : Lion King of Mali

Sundiata Mansa adalah pendiri sekaligus raja pertama kerajaan Mali pada abad ke-13. Dia memeluk Islam sambil tetap mengembangkan agama lokal di kerajaannya. Melalui epiknya, dengan sinis ia mengkritik budaya yang terpaku pada teks mati : di dalam tulisan tidak ada kemampuan merasakan masa lampau dan tidak ada kehangatan suara manusia.

Orang lain memakai tulisan untuk merekam masa lampau, tetapi penemuan ini telah membunuh kemampuan ingatan mereka.

Mereka tidak lagi merasakan masa lampau, sebab tulisan tidak lagi mengandung kehangatan suara manusia.

***

Di Indonesia, proses dialog dengan Al-Quran dilakukan dengan berbagai cara khas Indonesia. Pada beberapa cara, Al-Quran yang dijadikan sebagai objek ritual, misalnya secara tradisional dengan menjadikan tulisan Al-Quran sebagai azimat atau hal lain yang berbau mistis. Beberapa dukun punya ayat favorit untuk para pelanggan setia mereka. Secara modern, Al-Quran juga digunakan sebagai simbol ritual misalnya pada proses pengambilan sumpah jabatan atau kesaksian di pengadilan.

Masyarakat Indonesia juga memiliki budaya pengajian yang melakukan pelisanan kembali Al-Quran. Umumnya, pelisanan Al-Quran dilakukan sesuai kaidah bacaan Arab yang baik meskipun arti dan makna tulisan ini jarang sekali dimengerti. Keindahan alunan orang mengaji tentunya menjadi aspek tersendiri dalam dialog dengan Al-Quran. Tetapi saya tidak bermaksud membahas dialog jenis yang ini.

Budaya pengajian di Indonesia

Kadang-kadang timbul pertanyaan mengenai bagaimana cara berdialog kembali dengan Al-Quran seperti masa turunnya dahulu. Mengkhatamkan Al-Quran dalam arti melagukan bacaan dari Al-Fatihah hingga ke An-Nas jelas belum merupakan definisi dialog yang tepat untuk saya. Lebih penting dari itu, kita seharusnya melihat bagaimana sejarahnya ketika ayat demi ayat turun? Kemudian, pada latar belakang budaya apa proses penurunan ayat demi ayat ini terjadi? Penelusuran ini membuat kita menjadi tidak memandang Al-Quran sebatas tulisan asing (Arab) yang makblug menjadi hidangan fast food yang siap disantap. Ada proses pengertian dan akulturasi antara ajaran Al-Quran ini dengan realitas kehidupan kita yang tidak selalu sama dengan waktu ayat demi ayat ini diturunkan.

Apalagi kalau nanti kita berkesempatan masuk ke khasanah tafsir Al-Quran yang beraneka ragam, mulai dari yang fundamentalis ala Sayyid Qutb, yang rasionalis ala Ar-Razi, yang tradisionalis ala Ibnu Katsir, atau yang modernis ala Muhammad Abduh. Tidak tertutup kemungkinan juga, kalau kita mau membuat tafsir Al-Quran ala penduduk Jakarta misalnya. Saya pikir, itu sah-sah saja. Tindakan semacam ini moga-moga membuat kita bisa memahami Al-Quran beyond the text dan kembali lagi, memahaminya berdasarkan realitas kehidupan kita yang terus berubah.

Ini misalnya saja lho, tapi saya mau sedikit berandai-andai kalau saja Al-Quran diturunkan pada waktu sedikit lebih lama, mungkin kewajiban perkawinan satu suami hanya dengan satu istri saja (monogami) dan pelarangan perbudakan dapat menjadi bagian dari ayat-ayat Al-Quran. Memang pada abad ke-7 di dunia Arab, kesetaraan gender dan ras masih merupakan suatu hal yang aneh. Perdagangan budak dilakukan secara umum di pasar-pasar, wanita diperlakukan sebagai aset kebendaan yang sah-sah saja diwariskan atau dipindahtangankan.

Sebelum turunnya Al-Quran, budaya Arab menganggap sebuah kewajaran bagi pria untuk memperistri banyak wanita dan memiliki selir bahkan lebih banyak lagi. Secara final, Al-Quran sendiri berhasil melakukan perubahan sosial ketika itu agar pria memperistri maksimal empat wanita saja, itu pun diembel-embeli dengan prasyarat yang tidak mudah: kalau sang pria merasa adil. Berdasarkan hal ini, saya melihat semangat kesetaraan gender dan ras ini menjadi agenda yang cukup penting dalam Al-Quran, meskipun belum terselesaikan dalam proses keberangsurannya.

Lebih jauh, kalau kita ekstrapolasikan, perubahan sosial yang menjadi misi Al-Quran belumlah selesai, bahkan mungkin tidak akan pernah selesai. Nilai universal yang berada di dalamnya perlu kita pahami dengan baik. Al-Quran sebagai sumber hukum merupakan sumber inspirasi yang tidak pernah habis. Sebagai implementasi semangat perubahan sosialnya, hukum-hukum jurisprudensi (fiqh) dan implementasi sosial misalnya, perlu selalu kita formulasikan ulang sesuai dengan realitas dan latar belakang budaya yang kita miliki.

Kita bisa lihat sampai saat ini update hukum-hukum ini masih menjadi pe er yang belum terselesaikan di kalangan Islam. Penganiayaan seksual TKW di Arab Saudi tidak dianggap sebagai pemerkosaan karena wanita masih dianggap sebagai aset kebendaan. Harem-harem masih bertebaran di dunia Islam Timur Tengah. Ayat-ayat Al-Quran masih menjadi justifikasi poligami di Indonesia. Wanita tidak bebas berkeliaran di malam hari karena penerapan syariah di beberapa otonomi daerah yang menerapkan ‘syariat Islam.’ Dan masih banyak penerapan sosial lainnya yang malah menghalangi aktivitas yang membebaskan dan mencerahkan.

Kesepakatan ulama di masa lalu sepertinya perlu terus kita kaji untuk mendapatkan semangat perubahan sosial yang diusung oleh Al-Quran. Isu kesetaraan gender saja misalnya, mencakup kajian panjang pada aspek jurisprudensi yang tidak sedikit: hierarki wanita dalam keluarga, pembagian harta warisan, pembebasan aktivitas sosial wanita, kepemimpinan wanita, dan hal lain.

Well, ada yang bilang sikap ini merupakan penafsiran yang kontekstual. Ada juga yang bilang itu kompromi agama dengan realitas. Dan ada orang yang bilang itu bid’ah. Ragam pendapat ini sah-sah saja, asal disampaikan dengan santun. Tapi kemarin ini, terus terang saya sempat ‘ditampar’ oleh pernyataan sinis Sundiata yang lain :

Para Nabi tidak menulis, dan karena itu sabda mereka menjadi hidup. Betapa sia-sia ajaran yang terbungkus dalam buku yang dungu!

(Sundiata : An Epic of Old Mali, D.T. Niane)

20 Agustus 2009

Pendidikan yang (Tidak) Membebaskan (Bagian 2)

Tidak akan pernah habis kita mengidentifikasi gejala-gejala dari pendidikan yang tidak membebaskan. Memang kebebasan (subjektif) adalah suatu utopia, yang lagi-lagi berada pada level pola pikir dan kejiwaan. Bisa dikatakan pencarian ‘kebebasan’ adalah suatu proses yang tidak pernah rampung.

Jauh sebelum kita membicarakan pendidikan yang membebaskan dalam skala masyarakat, dan mungkin juga masih terlalu luas kalau kita membicarakan ini dalam skala keluarga, saya lebih memilih untuk mempertanyakan bagaimana pendidikan yang membebaskan itu dapat dipraktikkan pada diri sendiri. Lho, terus terang saja, saya saja kadang-kadang ragu apa bisa saya mempraktikkannya pada diri sendiri.

Baik dalam posisi apapun, seharusnya ada suatu ‘spirit’ yang menjiwai proses pendidikan yang membebaskan. Minimal, kesadaran menjalankan adalah merupakan suatu proses itu sendiri. Baik menjadi murid atau guru, atau dalam bahasa yang lebih setara, partner intelektual, kesadaran perjalanan inilah yang ingin saya cari.

Mengenai kesadaran memerankan guru untuk pendidikan yang membebaskan ternyata memerlukan upaya yang tidak mudah. Pendidik yang membebaskan adalah yang membuka peluang seluas-luasnya agar murid bergerak melangkah sendiri mengembarai cakrawala-cakrawala kemungkinan ilmu. Kadang-kadang kita suka tidak sabar menunggu proses pembelajaran lantas buru-buru memberikan jawaban terhadap pertanyaan yang disodorkan pada partner intelektual kita ini.

Selain itu, apakah tepat seorang guru memberitahukan sesuatu atau menyodorkan informasi-informasi, yang sebenarnya merupakan hak asasi murid untuk menelusuri dan memperolehnya secara mandiri? Lalu, bagaimana kesiapan seorang guru ketika muridnya memiliki jawaban yang berbeda dengan jawaban sang guru? Kitapun harus mulai mengkaji dampak seorang eksklusifis, yang menginginkan satu jawaban untuk satu pertanyaan.

Mengenai kesadaran perjalanan sebagai murid, saya jadi ingat seorang teman yang agak nyeleneh. Pada posisinya di masyarakat, teman ini memiliki status sosioekonomi yang sangat baik. Pada sisi lain, pada usia lanjutnya teman kita ini ternyata seorang pembelajar yang tidak kenal lelah. Salah satu hobinya adalah membaca. Semua jenis buku ia baca, tetapi buku yang paling dia gemari adalah jenis buku membuatnya gelisah. Makin terguncang keyakinannya, makin dia gelisah, dan makin dia semangat membaca buku ini. Ketika teman-teman seumurnya mengharapkan dan mungkin sudah mendapatkan kemapanan, dia justru membangun pola pikir anti kemapanan.

Beberapa kali saya berbincang dengannya, bulu kuduk saya selalu meremang karena wacana yang ia kemukakan; biasanya seputar teologi dan kemanusiaan. Prinsip pribadinya adalah “jangan-jangan saya salah, orang lain benar”. Dia bersedia menerima berbagai hal baru kalau memang hal baru ini logis menurutnya. Dengan segala kekuatan dan kelemahannya, teman kita ini membuka dirinya untuk pemahaman yang ekspansif, termasuk untuk konsep ketuhanan yang merupakan ruang privat dan biasanya enggan kita bicarakan. Yah, dia memang bukan tipe eksklusifis yang menganggap nilai-nilai yang dia pegang adalah yang paling benar.

Meskipun saya tidak selalu sepakat dengan pemikiran teman ini, tetapi saya selalu mengagumi ‘spirit’ yang dia pegang mengenai pembebasan diri dari kelembaban. Kelembaman bisa jadi status quo kepemimpinan, sakralisasi hal-hal seputar keagamaan, nilai filosofi yang kadaluarsa, hegemoni kebudayaan. Mengapa tidak? Kalau telah sering terbukti fatwa agama ternyata salah, penemuan ilmu keliru, kesimpulan filsafat tak bisa bertahan; maka bersedia mengakui kelemahan bisa jadi adalah sejenis kekuatan.

Saya sendiri sering merasa pada sangat banyak dogma yang melekat yang tidak pernah saya sadari mengerosi gairah skeptisisme saya dalam mempertanyakan sesuatu. Sering kali, sesuatu yang sangat halus membelokkan saya tidak mempertanyakan kembali suatu hal, menganggap hal ini taken for granted, lalu menghibur diri dengan jawaban “Sudah dari sananya.”


Begitu banyak pertanyaan yang saya sadari pernah saya lewati karena dogma yang melekat pada diri saya. Kalau memang Al-Quran versi Usmani cetakan Mesir 1904 yang kita pegang saat ini ternyata bukan satu-satunya mushaf; dan masih ada mushaf Aisyah, mushaf Umar, dan mushaf Ibnu Mas’ud; lalu masing-masing mushaf terdapat perbedaan jumlah surat, isi, dan hal-hal lainnya; apakah ke-kitabsuci-an Al-Quran boleh kita pertanyakan?

Mengapa kematian itu mesti menakutkan atau memang kita yang terbiasa ditakut-takuti? Apa benar tidak semua kebudayaan di dunia ini menakut-nakuti kematian? Apa benar ada siksa kubur? Kan tidak ada referensinya di Al-Quran?

Apakah pemanasan global itu karena ulah manusia? Ataukah pemanasan global sesuatu keniscayaan gejala alam yang natural dan tidak mungkin bisa dikendalikan oleh manusia itu sendiri?

Apa benar kehidupan adalah hasil konspirasi para selfish genes? Dan kesadaran ke-‘aku’-an hanyalah hasil kerja dari rentetan neurotransmiter yang berinteraksi satu sama lain? Kalau memang kehidupan adalah hanyalah mekanisme gen saja dan ‘aku’ sebenarnya tidak ada, apakah kita bisa benar-benar berkata ash to ash, dust to dust? Innalillahi wa inna illaihi raji’un? Itupun bagi pribadi-pribadi yang percaya kalau Tuhan ada lho ya...

10 April 2009

Mengenai Kebijaksanaan Keramaian

Setiap orang memiliki gagasannya sendiri tentang Utopia, alias tempat yang paling sempurna. Bagi banyak orang, itu bisa saja kesetaraan hak, keadilan universal, kebebasan dari rasa takut. Atau bisa saja kelimpahan pangan, pemerataan kesejahteraan, kebebasan dari materi. Menurutku, Utopia adalah kesadaran tentang kebodohan, mengenai apa yang kita tidak ketahui.

Faktanya, kita merasa perlu dibutakan pengetahuan berikut keyakinan akan pengetahuan itu sendiri. Kita gandrung mengikuti pemimpin yang dapat mengumpulkan pengikut, karena keuntungan kelompok besar dan kerugian karena menyendiri. Kita merasa lebih beruntung berbondong-bondong ke tempat yang salah, daripada hanya sendirian ke tempat yang benar. Kita cenderung mengikuti orang bodoh yang merasa dirinya mengetahui, daripada mengikuti orang bijak yang berkata, "Jangan-jangan aku tidak mengetahui."

Ini adalah paradoks kebijaksanaan keramaian, semacam patologis sosial yang dianggap kebenaran. Hei, psikopat kan biasanya memiliki banyak sekali pengikut??

28 Februari 2009

Monolog Seruni

Yah, tidak usah ngomong dulu lah mengenai pengentasan kemiskinan, pemerataan kesejahteraan. Itu sih omongannya caleg-caleg di spanduk-spanduk yang mereka pajang di setiap perempatan. Sejauh ini sih baru ketahuan omongannya saja. Dan kemungkinan besar memang hanya omongannya saja. Lho, kan memang tugasnya ngomong saja. Syukur-syukur omongannya bisa jadi Undang-undang dan menimbulkan perubahan. Istilah Obama, "The change we believe in".

Menurutku, mestinya kemiskinan jangan dihabiskan lah dari dunia ini. Kasihan para pejuang pengentas kemiskinan bisa-bisa sepi order. LSM-LSM bisa kehilangan sumber dana. Politikus bisa kehilangan dukungan politik orang miskinnya. Para ekonom bisa kehabisan bahan studi pemerataan ekonominya. Para sosiolog bisa kerepotan harus menulis kembali teori pertentangan kelas. Malah, para orang miskin pun bisa kehilangan status kemiskinannya. Apa tidak repot tuh?

Kalau kemiskinan dihubung-hubungkan dengan kesederhanaan, sebenarnya tidak harus berbanding lurus. Malah kalau boleh, dikatakan saja kah tidak ada hubungan sama sekali. Yah, kalau terpaksa ya boleh lah kemiskinan itu dikatakan sebagai 'kesederhanaan yang terpaksa'. Meskipun ini akan merendahkan arti kesederhanaan itu sendiri. Atau jangan-jangan ini adalah wacana untuk menghibur orang-orang miskin? Toh, orang miskin pun bisa saja hidup tidak sederhana..

Ada benarnya idiom bahwa orang miskin disayang Tuhan. Lantas, memang orang kaya tidak disayang begitu? Tidak kan? Kalau katamu iya,
ini sih sudah pasti propaganda untuk menghibur orang-orang miskin. Sudah begitu lantas, kita jadi tenang. Kalau kita merasa miskin, kita bisa tenang merasa disayang Tuhan; kalau kita merasa kaya, kita bisa tenang orang-orang miskin tenang dan tidak merusak aset yang kita rasa milik kita. Bisa-bisa dikatakan candu masyarakat kalau begitu. Kata guru-guru agama, Tuhan itu maha penyayang. Ya, mestinya orang miskin, orang kaya, orang baik, orang jahat, kambing, tokek, bluwek sama disayang Tuhan dong..

Di bumi Tuhan yang kaya raya ini, kemiskinan termasuk salah satu aset kekayaannya. Masa aset milik pihak lain mau kita hilangkan? Katanya Pak botak yang namanya Gandhi, bumi ini mampu menghidupi seluruh penghuni bumi, tapi tidak untuk satu orang yang tamak dan serakah. Berarti, jangan-jangan kemiskinan itu musuhnya kesederhanaan. Kalau seluruh komunitas manusia melakukan soal-soal kesederhanaan, bisa-bisa kemiskinan bisa berkurang kalau begitu. Walaupun tidak akan punah..

Ngomong-ngomong, kira-kira ada tiga ratus tiga puluh ribu empat ratus tiga puluh satu orang bernama Seruni, aku tidak tahu apakah ada satupun yang pernah bermonolog seperti ini..

15 Februari 2009

Kembali ke Tanah Leluhur

Sebenarnya perjalanan saya ke kota Medan kali ini bukan merupakan perjalanan kali pertama, tetapi perjalanan ini terasa sangat berkesan. Meskipun belum pernah mudik dalam arti yang sesungguhnya, tetapi perjalanan kali ini terasa semacam napak tilas asal usul, kembali ke tanah leluhur. Kesan ini mungkin sebuah alasan mengapa orang Indonesia memiliki tradisi bernama mudik. Jangan-jangan ada sesuatu yang luhur yang mampu membuat orang melupakan kelelahan fisik dan resiko yang demikian tinggi saat melakukan mudik.

Seperti yang umumnya terjadi menjelang hari raya, tradisi mudik kita lakukan dengan berbagai daya upaya. Tiket transportasi umum macam pesawat dan kereta api pasti sudah habis sebulan sebelumnya dan sering kali berlipat harganya. Kita juga kenal mudik dengan mobil pribadi yang menghabiskan waktu berhari-hari sehingga membuat saya mendefinisikan kembali arti MPV (Multi Purpose Vehicle); ya jadi alat transportasi, ya jadi hotel, ya jadi restoran. Kita juga makin berusaha memahami kedalaman nilai mudik memikirkan fakta bahwa beberapa tahun terakhir ini kita mengenal mudik sekeluarga menggunakan sepeda motor. Lengkap dengan resiko tingkat tinggi kala lubang jalan sepanjang jalur mudik menunggu motor berkecepatan tinggi.

Mungkin mudik selain merupakan pulang ke tempat asal leluhur, lebih jauh lagi memperbaharui lagi pemahaman mengenai asal usul kita, siapa hakikinya kita. Menurut Cak Nun, ada empat episode dalam tradisi mudik. Pertama adalah kerinduan untuk pulang ke kampung halaman dan bersilaturahim dengan sanak famili. Ini adalah episode awal dari kebutuhan batin manusia untuk kembali ke asal asulnya. Kedua adalah pulang secara geografis dan kultural semacam mudik Lebaran. Mudik episode kedua ini merupakan bentuk kesadaran atau ikrar kembali bahwa diri manusia berasal dari tanah dan air, yang akan kembali ke tanah dan air. Ketiga adalah kesadaran tentang kembali ke ibu pertiwi yang lebih batiniah, yaitu kekhusyukan menginsyafi kasih sayang ibunda, kandungan dan rahim ibunda. Betapa di puncak kerumitan hidup ini kita terkadang ingin kembali masuk ke gua garba ibunda. Keempat adalah kembalinya kita semua ke pencipta tanah air, ke sumber dan asal usul. Hal ini yang menyebabkan perilaku kita untuk selalu siap kembali kepada Sang Pencipta adalah kesejatian mudik.

Yang pasti ‘mudik’ yang ini cuma main-mainan yang tidak layak masuk nominasi episode macam ini. Sekedar berputar-putar di kota yang berada pada propinsi yang sama dengan asal bapak, kakek, buyut, dan seterusnya tidak mengesahkan perjalanan ini sebagai mudik. Sekilas mencoba makanan yang cuma ada di kampung halaman belum membuat orang dikatakan melakukan mudik.

Tapi yang lebih pasti lagi, kemanapun perginya pasti kita mudik kembali. Sebab setiap momentum pergi adalah proses mudik kembali. Katanya sih begitu!

18 November 2008

Ilham dari Pinggiran Jalan Raya

Ada kenikmatan tersendiri berjalan menyusuri pinggiran jalan raya. Di bawah terik matahari, menarik nafas dengan sedikit bau asap kendaraan, diiringi dengan musik khas berupa bunyi gas dan klakson mengiringi perjalanan. Dinding adalah galeri grafiti artis sekolahan yang masih segar. Sering juga, pedagang kaki lima berteriak memanggil agar kita bersedia menengok ke dagangannya.

Dari beberapa kali perjalanan, seringku menemukan pencerahan di lokasi yang unik ini. Pinggiran jalan raya adalah kesempitan di ruang terbuka. Ia merupakan media hijrah manusia. Ia sejenis jendela terhadap dunia realitas. Ia mengundang pencarian ilmu pengetahuan. Ia penggalian hikmah. Ia ialah ilham.

Pinggiran jalan raya adalah sebuah paradoks, karena ia adalah kesempitan pada ruangan terbuka. Lebarnya sering kali hanya cukup untuk satu orang karena lebar sebelumnya telah dipotong untuk pelebaran jalan raya. Kadang-kadang, lebar yang sudah minim ini sering dibagi lagi oleh klaim teritorial pedagang kaki lima yang mencari nafkah. Kadang-kadang malah, tidak bisa sama sekali dilewati bila sedang ada galian kabel atau gorong-gorong.

Pinggiran jalan raya merupakan media hijrah manusia. Di jalur yang sempit ini, manusia hijrah berpindah dari titik satu ke titik yang lain. Dengan berjalan kaki, manusia menghijrahkan pribadinya dari tempat satu ke tempat lain. Dengan berdagang di kaki lima, manusia menghijrahkan keluarganya dari ketidakberdayaan ekonomi menjadi keberdayaan ekonomi. Dengan menggali kabel dan gorong-gorong, manusia menghijrahkan masyarakatnya dari ketertinggalan teknologi menjadi kemajuan teknologi.

Oleh karena itu, pinggiran jalan raya menjadi sejenis jendela terhadap dunia realitas, dunia yang senyata-nyatanya. Ternyata ia tidak hanya memiliki fungsi dasar saja sebagai tempat orang berjalan, tetapi juga memiliki fungsi ekonomi bagi banyak keluarga dan fungsi pengorbanan demi perkembangan teknologi bagi masyarakat. Bahwa di balik itu, ada suatu kenyataan bahwa kesempitan pinggiran jalan raya ini menyebabkan timbulnya berbagai ‘tambahan’ fungsi yang tidak kalah penting.

Fungsi yang kalau dihilangkan, lebih dari 12 ribu keluarga di Jakarta saja yang bergantung dari bisnis kaki lima yang akan kehilangan keberdayaan ekonominya. Fungsi pengorbanan yang kalau dihilangkan, pengembangan fasilitas listrik, telepon, gas, internet, drainase dan berbagai kebutuhan teknologi lainnya tidak usah diomong-omongkan lagi.

Realitas pinggiran jalan raya ini selalu menarik untuk dijadikan bahan pengamatan dan diteliti oleh ilmu pengetahuan. Berapa penelitian yang sudah dihasilkan sosiologi pinggiran jalan raya sangat terkenal dengan topik anak jalanannya? Berapa banyak arsitek pinggiran jalan raya juga tidak hentinya membuat rancangan terbaiknya untuk menemukan desain terbaik untuk mengakomodir berbagai fungsinya ?

Bagiku sendiri, pinggiran jalan raya adalah tempat yang sederhana dan jujur. Ia adalah tempat belajar kebijaksanaan. Ia adalah tempat memahami sumber keindahan sekaligus keburukan. Ia adalah tempat mempertanyakan hidup. Sebab katamu kan, “Hidup yang tidak dipertanyakan itu adalah hidup yang tidak patut dilanjutkan.”

Bagiku, pinggiran jalan raya adalah ilham.

13 Agustus 2008

Hidup Hanya Sebatas Perut

Menyatakan bahwa kita melihat dan menyadari keterbatasan diri ternyata harus sedikit dipaksa. Hal itu yang terjadi pada saya untuk mengakui bahwa ternyata hidup saya ini ternyata masih hanya sebatas perut.

Dua kali kiasan kata “hidup hanya sebatas perut” terlintas dalam keseharian jangan-jangan bukanlah suatu kebetulan, melainkan sebuah pemberitahuan. Untuk mengajari tentang kata orang-orang bahwa ada hal-hal lain selain batas perut yang harus diperjuangkan.

Mentalitas “sebatas perut” tidak selalu berkorelasi dengan kenyataan fisik, apakah perut seseorang memang kurang, cukup-cukup saja, atau bahkan berlebih. Malah ada perut-perut yang sudah diperlakukan secara berlebih masih saja merasa lapar.

Ya pastinya termasuk saya ini, yang kadang-kadang khawatir dengan soal-soal makan apa hari ini, tidak jarang mengenai tagihan yang belum selesai, malah kadang-kadang menginginkan hal-hal yang belum saatnya dimiliki. Padahal, kurang apa saya? Banyak yang diberikan kepada saya mungkin tidak diberikan kepada semua orang dan belum sempat saya tindak lanjuti.

Muhammad sendiri mengatakan bahwa jihad terbesar adalah menaklukkan hawa nafsu kita sendiri. Zuhud, yaitu melepaskan perasaan dari dunia, adalah sebuah proses yang tidak pernah berhenti, karena batasnya adalah langit, bahasa bekennya limit menuju tak terhingga.

Urusan perut adalah hawa nafsu kita yang paling dasar. Maslow mengatakan bahwa kebutuhan fisiologis merupakan kebutuhan paling pokok dan mendasar. Selanjutnya baru menyusul kebutuhan rasa aman, lalu kebutuhan bersosialisasi, diikuti dengan kebutuhan harga diri. Baru kebutuhan aktualisasi diri muncul terakhir setelah semuanya terpenuhi.

Menyesapi pikiran dengan kiasan bahwa hidup tidak hanya sebatas perut saja, masih membutuhkan tindak lanjut, yang tentunya akan didapatkan dengan tindakan nyata. Tetapi di sisi lain, memahami bahwa hidup bukan hanya sebatas perut adalah masalah hati dan pikiran. Tindakan kita memang mewarnai dunia, tapi hati, perasaan, serta niat kita itu tidak perlu ada orang yang tahu.

Mungkin hikmah berpuasa bukan sekedar menahan urusan “fisik” perut kita, tapi juga urusan “mental” perut. Kalau kita masih mau berjalan lebih jauh, masih ada batas-batas lain yang lebih jauh dari perut yang bisa kita capai, ya seperti salah satunya ya langit itu.

Petantang petenteng kita berlagak di muka bumi ini, berlagak juga ingin menaklukkan langit, ternyata masih hidup hanya untuk sebatas perut.