Selama beberapa bulan terakhir ini, terhitung beberapa esai yang coba saya susun tidak selesai saya rampungkan atau kirimkan, mulai dari resensi film Batman Begins sampai masalah kepemilikan dunia secara pribadi. Berbagai alasan mengenai hal ini tidak jauh dari permasalahan mood, minimnya materi yang terkait, atau tidak layak dilanjutkan. Kalau memang ketik-ketikan ini akhirnya dapat dikirim di blog, besar harapan saya tulisan ini adalah sebuah awal baru mengakhiri fase panjang ketidakproduktifan saya dalam tulis-menulis.
Mengenai hal ini, saya agak malu mengingat lebih 100 tahun yang lalu, Charles Duell di kantor paten US mengatakan, “Semua yang penemuan dapat ditemukan sudah pernah ditemukan”. Kenyataannya, justru seratus tahun terakhir inilah yang membuat wajah dunia berubah signifikan hingga seperti sekarang. Kaitan dengan romantika ini, apa yang mau saya sampaikan saya rasa sudah pernah diceritakan orang lain, setidaknya mengenai materi yang sama.
Beberapa waktu belakangan ini, saya berusaha menyediakan waktu khusus untuk mempelajari berbagai hal sesuai minat secara acak. Keberadaan internet membawa saya ke pengetahuan kolektif manusia yang hampir tidak terbatas, mulai dari hal yang eksakta hingga urusan abstrak. Perkembangan informasi yang begitu cepat membuat pengetahuan usang dalam hitungan menit, meskipun begitu saya pikir pengembangan pemahaman akan membuat kita tetap relevan dengan tingkat kecepatan ini.
Pemahaman sains dan teknologi sendiri semakin berkonvergensi terhadap pemahaman sosial dan ketuhanan. Hal ini menyebabkan ‘gambaran besar’ kemanusiaan yang makin jelas. Misalnya saja, saat ini penemuan fosil dan genetika semakin mempersempit mata rantai urut-urutan evolusi spesies pra-manusia hingga menjadi manusia modern. Hal ini semakin menegaskan bahwa manusia pertama berasal dari Afrika sekitar 10.000 tahun yang lalu.
Ditinjau dari literatur Islam sendiri, fakta evolusi manusia sendiri diizinkan memiliki ruang alias tidak bertentangan dengan Al-Quran dan Al-Hadits. Pada sisi yang lain, kisah populer umat Islam bahwa istri Adam bernama “Hawwa atau Hawa”sampai sekarang belum saya temukan di Al-Quran. Terhadap fakta-fakta ini, pemahaman kita tentang Adam sebagai manusia pertama akan mengalami redefinisi dan berdampak pada pemahaman dan keimanan kita terhadap hukum Tuhan.
Menurut Ulil Abshar-Abdalla, iman yang kuat tak akan takut pada keraguan, sedangkan iman yang dangkal dan dogmatis selalu was-was pada pertanyaan dan keragu-raguan. Usaha memahami hakikat ketuhanan dengan iman dan ilmu adalah sebuah usaha yang berkelanjutan. Menggunakan keimanan dan pemahaman untuk mengelola bumi dengan kasih sayang mungkin sebenarnya apa yang menjadi tugas manusia di muka bumi.
Menyatakan bahwa kita melihat dan menyadari keterbatasan diri ternyata harus sedikit dipaksa. Hal itu yang terjadi pada saya untuk mengakui bahwa ternyata hidup saya ini ternyata masih hanya sebatas perut. Dua kali kiasan kata “hidup hanya sebatas perut” terlintas dalam keseharian jangan-jangan bukanlah suatu kebetulan, melainkan sebuah pemberitahuan. Untuk mengajari tentang kata orang-orang bahwa ada hal-hal lain selain batas perut yang harus diperjuangkan.
Mentalitas “sebatas perut” tidak selalu berkorelasi dengan kenyataan fisik, apakah perut seseorang memang kurang, cukup-cukup saja, atau bahkan berlebih. Malah ada perut-perut yang sudah diperlakukan secara berlebih masih saja merasa lapar.
Ya pastinya termasuk saya ini, yang kadang-kadang khawatir dengan soal-soal makan apa hari ini, tidak jarang mengenai tagihan yang belum selesai, malah kadang-kadang menginginkan hal-hal yang belum saatnya dimiliki. Padahal, kurang apa saya? Banyak yang diberikan kepada saya mungkin tidak diberikan kepada semua orang dan belum sempat saya tindak lanjuti.
Muhammad sendiri mengatakan bahwa jihad terbesar adalah menaklukkan hawa nafsu kita sendiri. Zuhud, yaitu melepaskan perasaan dari dunia, adalah sebuah proses yang tidak pernah berhenti, karena batasnya adalah langit, bahasa bekennya limit menuju tak terhingga.
Urusan perut adalah hawa nafsu kita yang paling dasar. Maslow mengatakan bahwa kebutuhan fisiologis merupakan kebutuhan paling pokok dan mendasar. Selanjutnya baru menyusul kebutuhan rasa aman, lalu kebutuhan bersosialisasi, diikuti dengan kebutuhan harga diri. Baru kebutuhan aktualisasi diri muncul terakhir setelah semuanya terpenuhi.
Menyesapi pikiran dengan kiasan bahwa hidup tidak hanya sebatas perut saja, masih membutuhkan tindak lanjut, yang tentunya akan didapatkan dengan tindakan nyata. Tetapi di sisi lain, memahami bahwa hidup bukan hanya sebatas perut adalah masalah hati dan pikiran. Tindakan kita memang mewarnai dunia, tapi hati, perasaan, serta niat kita itu tidak perlu ada orang yang tahu.
Mungkin hikmah berpuasa bukan sekedar menahan urusan “fisik” perut kita, tapi juga urusan “mental” perut. Kalau kita masih mau berjalan lebih jauh, masih ada batas-batas lain yang lebih jauh dari perut yang bisa kita capai, ya seperti salah satunya ya langit itu.
Petantang petenteng kita berlagak di muka bumi ini, berlagak juga ingin menaklukkan langit, ternyata masih hidup hanya untuk sebatas perut.
Beberapa hari belakangan ini saya mengamati fenomena senyum. Awalnya terjadi ketika saya sedang berada di kursi depan penumpang pada mobil berkeliling di kota Cirebon. Dengan pandangan ke depan, gurauan seorang teman yang duduk kursi belakang tidak habis-habisnya membuat saya tersenyum lebar. Tidak sengaja, segera saya sadari ternyata ada seorang perempuan di boncengan motor di depan saya yang tersenyum balik membalas sesuatu yang tidak pernah dialamatkan untuknya.
Teman di duduk belakang ini juga segera menyadari dan mengomentari dengan gurauan budaya masyarakat Cirebon dan sekitarnya, yang memang relatif terbuka terhadap interaksi antarjenis. Obrolan dan gurauan pun terus mengalir. Tapi di balik semua itu, kejadian senyum ‘nyasar’ ini ternyata membuat perasaan baik dan menginspirasi saya hingga akhir hari itu. Kecelakaan senyum ‘nyasar’ inilah yang awalnya membuat saya melihat lebih dekat dan mencari lebih dalam hal-hal seputar senyum.
***
Kalau diurut-urut, mungkin senyum yang paling terkenal adalah senyum Mona Lisa yang misterius itu. Sang pelukis, Leonardo Da Vinci, terkenal jarang menyelesaikan dan meninggalkan karya-karyanya, tapi mbak Mona Lisa yang awalnya dilukis di Itali ini ikut hijrah ke Prancis dan akhirnya terselesaikan menjelang kematian Leonardo pada 1519. Seiring dengan waktu, Monalisa dari yang biasa-biasa saja menjadi semakin terkenal. Saking terkenalnya, senyum mbak Mona Lisa tercatat memecahkan rekor asuransi lukisan termahal dan dikunjungi enam juta orang setiap tahunnya di Museum Louvre.
Senyum yang tulus akan terasa di hati, karena apa yang dari hati pasti akan ke hati juga. Senyum membawa banyak kejadian positif. Mother Teresa pernah berkata bahwa kedamaian dimulai dari senyum. Tidak tanggung-tanggung, agama Islam juga mengatakan bahwa senyum itu adalah sedekah. Jadi bisa dibayangkan berapa banyak sedekah senyum yang bisa diberikan kepada orang lain, bahkan oleh orang termiskin di dunia. Semoga Hamdan ATT tidak lagi khawatir kalau-kalau menjadi orang termiskin di dunia :)
Tetapi percaya atau tidak, para ahli Biologi meyakini ekspresi senyum itu sendiri berasal dari ekspresi takut. Seorang ahli primata meneliti senyum hingga 30 juta tahun ke belakang dan menemukan kera menunjukan gigi yang mengatup rapat untuk menunjukkan predator bahwa mereka tidak berbahaya. Pernahkah anda melihat simpanse menunjukkan katupan giginya saat takut atau terancam? Nah, para ahli Biologi meyakini bahwa seiring dengan waktu, senyum berevolusi secara berbeda antarspesies, khususnya pada manusia.
Senyum pada manusia adalah cerminan sebagai ekspresi positif, termasuk rasa senang atau bahagia. Seorang psikolog bernama Duchenne mengamati bahwa kita dapat melihat senyum tulus yang berasal dari kebahagiaan yang sejati tidak hanya ditunjukkan dari daerah sekitar mulut saja, tetapi juga terlihat dari mata orang itu. Boleh bandingkan antara senyum anak-anak dengan senyum ‘oknum’ politisi di berbagai media. Jadi mungkin benar dikatakan ketulusan bisa dilihat dari mata, karena mata adalah cerminan hati. Secara sosial, senyum adalah interaksi antarmanusia, digunakan untuk menunjukkan keinginan mendekat, berteman dan kerja sama. Manusia tidak perlu belajar untuk tersenyum. Anak yang buta sejak lahir tidak pernah melihat senyuman siapapun, tetapi mereka menunjukkan senyum yang sama pada situasi yang sama pula seperti layaknya anak lainnya. Apalagi senyum memiliki efek menular, bukan hanya membuat orang lain ikut tersenyum, juga memiliki efek samping membuat perasaan merasa senang atau minimal mengurangi penderitaan pada orang yang tersenyum dan orang yang disenyumi. Terbukti dari kejadian “senyum nyasar” yang saya alami.
Kehidupan kita tidak akan pernah berhenti membutuhkan senyum. Senyum adalah bahasa universal yang dimengerti oleh semua. Di tengah segala kelelahan jiwa dan kesedihan hati, senyum datang sebagai penawar. Kejadian senyum, sengaja atau tidak sengaja, dapat membuat perubahan positif di kehidupan kita. Sebagai manusia, sudah sepatutnya kita melakukan hal-hal terbaik yang bisa membuat perubahan, termasuk di antaranya ya tersenyum itu sendiri. Jadi, berikanlah senyum kita kepada seseorang hari ini.
***
Senyum tidak membutuhkan apa-apa tetapi memberikan banyak Senyum memperkaya orang yang menerima tanpa mempermiskin orang yang memberi Senyum memerlukan satu detik untuk melakukannya, tetapi teringat selamanya
Tidak ada yang sebegitu miskin atau lemahnya sehingga ia tidak bisa memberi senyum Tidak ada yang sebegitu kaya atau kuatnya sehingga ia yang tidak bisa menerima senyum
Senyum tidak bisa dibeli, diminta, dipinjam, atau dicuri Senyum hanya bisa diberikan seseorang kepada orang lain
Bila seseorang terlalu lelah untuk tersenyum, berikan dia senyummu Sebab dia yang tidak dapat memberi senyumnya adalah yang paling membutuhkan senyum