Tampilkan postingan dengan label Rumi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rumi. Tampilkan semua postingan

30 September 2007

Jalaluddin Rumi

“Dunia tersembunyi memiliki awan dan hujan.
Tetapi dalam jenis yang berberbeda.
Langit dan cahaya mataharinya, juga berbeda.
Ini tampak nyata, hanya untuk orang yang berbudi halus --
mereka yang tidak tertipu oleh kesempurnaan dunia yang semu.“

Nama Rumi mungkin sempat terlintas dalam kehidupan kita. Kesempatan menikmati sepotong karyanya pertama kali didapat ketika di bangku kuliah dulu dari tulisan manajemen Gede Prama.

Suatu hari Rumi berdoa dalam-dalam.
Sehabis berdoa, ia ketuk pintu Kekasih Yang Maha Mencintai.
Dari dalam ada yang bertanya: "Siapa?".
Dengan teduh Rumi menjawab: "Aku...!
Tanpa menunggu lama-lama suara tadi menjawab kembali:"Tidak ada tempat untuk berdua."
Kembali Rumi berdoa dalam-dalam.
Setelah dirasa cukup, ia ketuk lagi pintu yang sama.
Kali ini pun terdengar suara yang sama: "Siapa?"
Dengan bergetar Rumi menjawab: "Engkau!"
Tanpa aba-aba pintu itu langsung terbuka.

Dari pandangan awam, kesan pertama yang tergambar dari tulisannya adalah keakraban antara jiwa dan Tuhan. Bagi yang merasa topik ini berada pada domain lain dan terasa tabu dan menakutkan, mungkin puisi-puisinya bisa terasa lebih nyaman karena berada pada konteks keseharian yang bersahabat. Bukan pada konteks sakral-ritual, apalagi pengkotak-kotakan baik-buruk, surga-neraka, islam-kristen-hindu-budha-kafir, dsb.

“Bukan Kristen atau Yahudi atau Muslim,
bukan Hindu, Budha, sufi, atau zen.
Bukan agama atau sistem budaya apa pun.
Aku bukan dari Timur atau Barat,
bukan keluar dari samudera atau timbul dari darat,
bukan alami atau akhirat,
bukan dari unsur-unsur sama sekali.
Aku bukan wujud,
bukan entitas di dunia ini atau akhirat,
bukan dari Adam atau Hawa
atau cerita asal-usul mana pun.
Tempatku adalah Tanpa-Tempat,
jejak dari yang Tanpa-Jejak.
Bukan raga maupun jiwa“


Sebuah kebetulan, tepat 800 tahun yang lalu, 30 September 1207, Jalaluddin Rumi lahir. Banyak yang telah dikatakan dia masih terdengar, berbicara bukan pada telinga, tetapi pada hati manusia.

Membandingkan latar belakang perang salib semasa hidup Rumi dengan perang minyak saat ini yang terpaut delapan abad, adalah waktu yang sangat lama untuk puisi-puisi Rumi masih terdengar aktual hari ini. Kalau ada istilah “Sains populer“, mungkin karya-karya Rumi ini boleh dikatakan “Ketuhanan populer“. Sedemikian populernya sehingga literatur Rumi mungkin dapat disandingkan dengan Shakespeare dan Khalil Gibran. Sedikit yang sempat terbaca, syair pendeknya beberapa kali mengundang celotehan spontan “Busyet dah“ dan “Gile bener”, misalnya saja:

“Kecerdasan adalah bayangan dari Kebenaran obyektif
Bagaimana bayangan dapat bersaing dengan cahaya matahari?”

Atau katanya lagi --

“Hidup/jiwa seperti cermin bening; tubuh adalah debu di atasnya.
Kecantikan kita tidak terasa, karena kita berada di bawah debu”

Bagaimanapun indahnya, tulisan Rumi akan selalu menimbulkan keresahan masyarakat dan mengusik intelektual, emosional, dan spiritual pembacanya. Tapi sudah seharusnya manusia terus melakukan perjalanan dan tidak berhenti: baik keluar - menapaki keluasan alam semesta; maupun kedalam - menyusuri kedalaman hati.

Nabi bersabda bahwa Kebenaran telah dinyatakan:
"Aku tidak tersembunyi, tinggi atau rendah
Tidak di bumi, langit atau singgasana.
Ini kepastian, wahai kekasih:
Aku tersembunyi di kaibu orang yang beriman.
Jika kau mencari aku, carilah di kalbu-kalbu ini."


Pada batu nisan di atas makam Rumi, orang menatahkan kata-kata yang pernah dikatakannya :

“Ketika kita mati, jangan cari nisan kita di bumi, tetapi carilah di hati manusia.“

Dear Rumi, selamat hari kelahiran ke-800, semoga kau bahagia bersama-Nya.