Tampilkan postingan dengan label Filsafat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Filsafat. Tampilkan semua postingan

23 Mei 2010

Dan Manusia Menciptakan Kehidupan

Proses penciptaan kehidupan adalah ranah ketuhanan. Kita selalu berpikir ada sesuatu yang lebih di dalam sesuatu yang hidup selain atom-atom penyusunnya yang saling berinteraksi satu sama lain. Ada sesuatu yang kita sebut ruh atau nyawa yang merupakan daya hidup yang ditiupkan Tuhan saat sesuatu dibangkitkan dari materi yang mati menjadi kehidupan. Apa jadinya kalau manusia menemukan cara menciptakan kehidupan dari materi yang mati? Apakah dengan ini manusia mengambil alih hak penciptaan kehidupan dari Tuhan?

Hal ini menjadi pertanyaan filsuf, pakar bioetika, saintis, dan orang-orang lain yang peduli ketika dua orang biolog, Craig Venter dan Hamilton Smith berhasil menciptakan kehidupan dari benda-benda yang mati. Mereka berhasil membiakkan bakteri yang mampu bereproduksi secara mandiri dari materi genetik yang disintesis sendiri di laboratorium mereka. Mereka menciptakan kehidupan sintesis.

imageSetelah 15 tahun melakukan riset puluhan jutaan dolar, beberapa hari yang lalu Venter dan Smith mengumumkan telah melakukan sintesis kehidupan pertama kali. Perkembangan penelitian ini telah diamati oleh publik selama lebih dari satu dekade dengan beberapa keberhasilannya, mulai dari penemuan pertama kali urutan utuh DNA dari makhluk hidup (bakteri), kemudian penemuan urutan utuh DNA manusia pertama (DNA milik Venter sendiri), hingga saat ini adalah penemuan sintesis kehidupan.  Selama periode ini, karier Craig Venter sendiri mengalami pasang surut, mirip dengan perkembangan penelitiannya panjangnya ini. Ia berpindah ke berbagai pusat penelitian, dan akhirnya memulai sendiri pusat penelitiannya.

 

Penemuan sintesis kehidupan ini mungkin terlaksana berkat kemajuan bioteknologi yang sangat pesat. Proses sequencing (mengurutkan) dan sintesis DNA  semakin cepat sehingga mempersingkat waktu penelitian. Di samping itu, biaya sequencing dan sintesis DNA ini juga menurun selama satu dekade terakhir. Mungkin hal ini dapat dijelaskan dengan Hukum Gordon Moore dalam kepesatan perkembangan teknologi komputer. Pengembangan bakteri buatan ini sendiri melibatkan satu juta pasang basa DNA sintesis, sekitar seratus kali lebih panjang dari sintesis virus polio yang dilakukan oleh Eckard Wimmer pada tahun 2002.

Banyak kritik yang berkembang menanggapi klaim penciptaan kehidupan ini. Ada beberapa saintis yang mengkritik mengenai keabsahan metode dan teknik penelitian Venter. Ada pula kritik yang menyangkal bahwa penemuan ini dapat dikatakan dengan istilah “penciptaan kehidupan”. Halaman depan majalah The Economist minggu ini mengatakan, “Pedants may quibble..” (artinya silakan cari sendiri ya). Memang benar bahwa penemuan ini hanya menggantikan seluruh informasi genetik dalam bakteri, sedangkan spare part lain untuk menjalankan proses kehidupan pertama kali pembentukannya diambil dari “cangkang” bekas makhluk hidup yang telah mati.

Meskipun begitu, dengan kemampuan kehidupan buatan manusia ini bereproduksi secara mandiri, menurut saya istilah “sintesis kehidupan” adalah tepat. Keberhasilan bereproduksi secara mandiri menunjukkan bahwa informasi genetis hasil sintesis dapat mereplikasi kehidupan selanjutnya. Hal ini berarti makhluk baru ini telah berhasil membuat spare part baru untuk para keturunannya. Di samping itu, penelitian tentang produksi spare part sel juga telah berkembang dengan baik. Tahun lalu, George Church dari Harvard University telah berhasil menciptakan ribosom buatan yang merupakan pabrik spare part di dalam sel.

***

Kalau boleh didramatisir, cara kita memandang diri kita dan dunia tempat kita hidup ini akan berbeda setelah penemuan cara menciptakan kehidupan. Pada novel terkenal jaman dulu, Victor Frankenstein dibuat dari spare part dari tubuh orang mati yang kemudian dialirkan kilat untuk memberikan ruh kehidupan. Di masa depan, mungkin blue print kehidupan akan disusun dalam sebuah software komputer untuk kemudian dapat dicetak menjadi kehidupan sebenarnya. Software Microsoft Life atau Adobe DNAmaker bisa jadi akan siap dipasarkan kurang dari satu dekade lagi.

image

Dari sudut kualitas kemanusiaan, taraf kehidupan kita akan berubah secara drastis. Sintesis kehidupan memindahkan babak perkembangan kemanusiaan dari era teknologi informasi ke  era bioteknologi. Di masa depan, kita akan melihat berbagai fenomena yang terjadi miliaran tahun dapat dipersingkat prosesnya menjadi beberapa tahun, bulan, hari, bahkan jam saja. Kalau perut bumi mampu memproduksi minyak bumi selama puluhan juta tahun, bakteri artifisial di masa depan mungkin hanya membutuhkan beberapa jam saja untuk membuat minyak solar dari bakteri. Kalau kehidupan terus menemukan model yang sesuai dengan lingkungan dalam empat miliar tahun melalui mekanisme evolusi, manusia menemukan hal ini hanya beberapa waktu saja.

Saya jadi membayangkan berbagai implikasi sebagai akibat penemuan ini. Sisi positifnya adalah  sumber energi tidak lagi diperebutkan dengan produksi energi alternatif yang berlimpah; zat pencemar dapat terurai dengan mudah dengan bioremediasi modern; perubahan iklim dapat diatasi dengan perkembangan revolusi hijau; teknologi kesehatan akan bertambah baik dan murah, meneruskan perkembangan pengetahuan immunologi, endotel, dan rekayasa genetika; ekonomi akan menemukan definisi baru, ia bukan lagi studi tentang scarce resources allocation melainkan abundant resources allocation. Mengenai penemuan ini, saya jadi ingat teknologi replikator makanan di seri Startrek. Tinggal katakan makanan apa yang kita inginkan, maka makanan ini akan keluar dari mesin ini. Kalau teknologi seperti itu sudah berhasil ditemukan, apa lagi fungsi uang?

image

Meskipun begitu, sisi negatif – atau setidaknya potensi negatif – tetap mengekor pada lompatan inovasi macam ini. Penemuan sintesis kehidupan akan mirip dengan penemuan nuklir. Ia juga memiliki potensi mengancam kemanusiaan, salah satunya dengan potensi pengembangan bentuk senjata biologis baru. Teroris atau hacker muda yang serampangan bisa jadi menciptakan senjata biologis baru yang berbahaya. Resiko kecelakaan akibat ketidaksengajaan, misalnya makhuk hidup baru ini tidak sengaja lolos dari laboratorium, juga mungkin terjadi meskipun resikonya dapat ditekan menjadi semakin rendah.

Resiko berbahaya akibat teknologi sintesis kehidupan ini bisa ditangani dengan peraturan yang ketat seperti perlakuan internasional terhadap teknologi nuklir. Saat ini untuk menanggapi penemuan ini, Presiden AS telah meminta komisi bioetika di pemerintahannya untuk melakukan kajian lengkap selama enam bulan mengenai teknologi sintesis kehidupan. Sebagai alternatif, dengan berkembangnya era keterbukaan, kebijakan open source dapat jauh lebih ramah terhadap lompatan inovasi. Open source akan membuat perkembangan penemuan berguna menjadi tidak terhambat untuk mencegah resiko penemuan berbahaya.

***

Dari sudut pandang filosofis, konsep kehidupan kembali dapat dipertanyakan. Apakah kehidupan biologis itu mekanik sama seperti mekanika Newton? Dengan kemampuan menciptakan kehidupan, apakah kita akan berpandangan kehidupan biologis semakin dapat diprediksi dan tentunya dimanipulasi? Kalau dulu evolusi mengambil alih perkembangan kehidupan melalui mekanisme mutasi dan seleksi alam, penemuan sintesis kehidupan ini memindahkan mekanisme kendali alam ke mekanisme tangan manusia. Yang pasti, kajian bioetika akan semakin marak dengan adanya penemuan ini. Dan juga kita akan menunggu perdebatan macam Harun Yahya terhadap evolusinya.

Bagaimana dengan konsep ketuhanan? Penemuan sintesis kehidupan akan mendefinisikan kembali konsep ketuhanan, seperti sejarah penemuan teknologi lainnya yang terus meredefinisi konsep ketuhanan. Istilah “Playing God” tertulis dalam berbagai komentar dan kritik terhadap penemuan teknologi ini, seperti dulu ketika pemahaman heliosentris dan nuklir berkembang.  Entah bagaimana konsep ketuhanan nanti akhirnya, tapi yang pasti ia akan terus berubah seiring dengan waktu.

Dahulu kala, ketika manusia masih tergantung dengan alam, benda-benda yang menentukan hajat hidup manusia dipertuhan. Kita mengenal era Dewa matahari di masyarakat pertanian, Dewa bulan di masyarakat penggembala padang pasir, dan Dewa sungai, gunung, atau hutan pada masyarakat yang tinggal dekat tempat-tempat ini. Dan ketika manusia mulai dapat mengendalikan alam, manusia membangun konsep keilahian untuk menjelaskan berbagai fenomena yang tidak dapat dijelaskan. Tuhan menjadi pencipta dan pengatur yang terlibat langsung dengan dengan kehidupan di dunia.

Saat ini, makin banyak fenomena yang mampu dijelaskan oleh manusia. Dengan penemuan ini saja, fenomena kehidupan yang dulu merupakan urusan ketuhanan telah diketahui mekanismenya oleh manusia. Jadi ke mana konsep ketuhanan akan mengarah? Mungkin saja atheisme akan menjamur dengan banyaknya orang yang menyerah terhadap ketuhanan. Meskipun begitu, tetap saja banyak manusia yang membutuhkan spiritualitas, menyerahkan sesuatu yang tidak ia pahami atau mampu lakukan terhadap ‘sesuatu’ yang didefinisikan Tuhan.

Mungkin pemahaman ketuhanan akan bergerak ke arah transendensi. Tuhan yang tidak bisa dideteksi oleh indera, tidak terpikirkan oleh akal logika rasional, dan tidak tercakup imajinasi manusia. Tuhan yang tidak begini dan tidak begitu, tidak ada yang menyerupai-Nya. Dengan begini, maka Tuhan yang tidak terlibat dengan dunia. Mungkin seperti kata Ibnu Rusydi menanggapi kritik Al-Ghazali terhadap filsuf: Tuhan tidak mengetahui hal-hal yang kecil. Mungkin Dia menyerahkannya kepada manusia.

6 Februari 2010

Antara Dogma dan Ilmu (Bagian Kedua)

Bicara soal dogma, saya jadi ingat perdebatan antara pemikiran di dunia Islam antara Al-Ghazali dan Ibnu Rusyd. Abu Hamid Al-Ghazali (d. 1111) adalah seorang tokoh Islam yang  pendapatnya sangat beken diikuti oleh ulama. Ia mendapat julukan “Juru Bicara Islam” (Hujjatul Islam). Kitab kuning yang dipelajari santri pesantren banyak memuat hasil pemikiran Si Abang Gozali ini. Pada masanya, ia merupakan ulama yang sangat produktif dengan menulis hingga lebih dari 70 buku. Buku masterpiece-nya “Membangkitkan Kembali Ilmu Agama” (Ihya’ ‘ulum al-Din) menjadi referensi banyak ulama hingga saat ini.

Al-Ghazali

Al-Ghazali merupakan penentang teologi rasional dan filsafat Islam yang dipengaruhi oleh pemikiran Yunani kuno. Pada masa kehidupan Ghazali, pemikiran teologi rasional dan filsafat berkembang di dunia Islam bersama dengan berbagai pemikiran lainnya. Melalui buku “Kerancuan para filsuf” (Tahafut al-Falasifah), Al-Ghazali menentang dan melabeli bid’ah dan kafir pada Aristoteles dan Plato serta para tokoh Islam yang mempelajarinya, antara lain Ibnu Sina dan Al-Farabi.

Pengkafiran oleh Al-Ghazali ini membuat orang di dunia Islam bagian Timur menjauhi dengan filsafat, termasuk kota Baghdad yang menjadi pusat  pemikiran Islam pada masa itu. Al-Ghazali juga berpendapat  bahwa  jalan sebenarnya untuk mencapai hakikat bukanlah  filsafat  tetapi  tasawuf. Ia berpendapat bahwa yang membawa orang kepada kebenaran bukan akal tetapi hati.

Sementara itu di dunia Islam bagian Barat, yaitu di Spanyol, ilmu filsafat di kalangan Islam tetap masih berkembang meskipun pemikiran Al-Ghazali  di Islam bagian Timur semakin mendominasi. Hal ini membuat secara berangsur ilmu pengetahuan dan filsafat di wilayah Timur beralih ke wilayah Barat. Hal itu terlihat dengan banyaknya buku-buku ilmu dan filsafat yang beredar di wilayah Barat, terutama di Spanyol dan Sisilia.

Lima belas tahun sesudah kematian Al-Ghazali, lahir seorang tokoh dari dunia Islam bagian Barat bernama Abu Al-Walid Muhammad Ibnu Rusyd (d. 1198). Ia juga adalah seorang tokoh Islam yang terkenal pada masanya dengan menulis lebih dari 67 tulisan asli di samping komentarnya pada karya Aristoteles dan Plato.

Ibnu Rusyd

Ibnu Rusyd membantah buku Al-Ghazali dengan sebuah kitab berjudul “Rancunya Kitab Kerancuan” (Tahâfut at-Tahâfut). Pada buku ini, Ibnu Rusyd membela para filsuf yang dikafirkan Al-Ghazali, melakukan klarifikasi paham filsafat, dan menyanggah paham Al-Ghazali. Kemudian, Ibnu Rusyd ‘mengembangkan argumen secara logika maupun dari kitab suci Al-Quran bahwa tidak ada pertentangan bahkan terdapat hubungan yang harmonis antara agama dan filsafat.

Seiring dengan perkembangan sejarah, Islam bagian Barat akhirnya tenggelam dengan runtuhnya Dinasti Ummayah oleh bangsa Eropa pada abad ke-15. Sementara Islam bagian Timur terus berkembang hingga menjadi wajah Islam saat ini. Perkembangan sejarah ini menyebabkan pemikiran rasional dan ilmiah dari dunia  Islam dari bagian Barat mulai menghilang, sedangkan pemikiran Al-Ghazali mendominasi dan akhirnya menjadi dogma umum kaum Islam hingga saat ini.

Pemikiran Al-Ghazali sukses berkembang secara luas dan diterima menjadi dogma di dunia Islam hingga masa kini. Umat Islam saat ini umumnya lebih memandang hati (kalbu)  lebih tinggi dibandingkan akal sebagai instrumen untuk menjalankan kehidupan. Ulama memisahkan ilmu agama dengan ilmu dunia. Tindakan pelabelan bid’ah, murtad, bahkan kafir juga umum terjadi di kalangan Islam, terutama untuk pihak yang memiliki perbedaan pendapat di bidang keagamaan.

Di sisi lain, pada dunia Barat pemikiran Ibnu Rusyd membuat filsafat menjadi bidang yang menarik minat orang Eropa untuk mempelajarinya. Komentarnya atas karya Aristoteles dan Plato sangat diakui di kalangan Barat. Hal ini dapat dilihat dari munculnya sebuah kelompok pengikut Ibnu Rusyd dalam bidang filsafat di Eropa yang menamakan diri Averroisme. Munculnya paham Averroisme ini adalah lompatan besar dalam pemikiran dan semangat keilmuan bangsa Eropa, khususnya dalam bidang ilmu pengetahuan dan filsafat.

Kelompok Averroisme terkenal di dunia Barat bersaing dengan paham dogmatis gereja yang telah menguasai kehidupan masyarakat Eropa selama lebih dari sebelas abad. Selanjutnya, kelompok ini menjadi salah satu faktor penting yang menyebabkan berkembangnya era Renaissance di Eropa abad ke-14 hingga ke-17. Dari era Renaissance ini, bangsa Eropa mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Ada pencarian sumber rempah-rempah ke Hindia oleh Portugis dan Spanyol, kolonialisasi dimulai, pengaliran sumber daya dari Asia dan Afrika ke Eropa, dan sisanya adalah sejarah yang kita ketahui hingga saat ini.

Peta Kekuasan Islam : Baghdad (Timur) dan Andalusia (Barat)

Nurcholis Majid pernah mengatakan bahwa di dunia Timur, pemikiran Al-Ghazali begitu mendominasi, sedangkan di dunia Barat, pemikiran Ibnu Rusyd yang lebih banyak berpengaruh. Dia mengatakan bahwa penjajahan dunia Barat terhadap dunia Timur adalah simbol penjajahan Ibnu Rusyd terhadap Al-Ghazali.

Kembali lagi, pastilah pemikiran dan dogma Al-Ghazali ada kelebihan dan kelemahannya. Begitu pula pemikiran dan dogma Ibnu Rusyd ada baik buruknya. Jadi pendapat keduanya sah-sah saja untuk diikuti. Lho, cuma mengikuti pendapat kok harus dilarang-larang untuk diikuti?

(Catatan: Dalam hal-hal yang saya tulis ini, saya sendiri lebih setuju dengan pemikiran Ibnu Rusyd. Hal-hal yang lain belum tentu lho ya..)

5 Oktober 2008

Voltaire

Voltaire (1694-1778) adalah seorang penulis dan filsuf dari Prancis yang terkenal dengan berbagai karyanya mulai dari humor intelektual, kemerdekaan sipil, kebebasan beragama, hingga perdagangan bebas. Nama aslinya sebenarnya François-Marie Arouet, tapi sesuai dengan kebiasaan penulis masa lalu, nama asli ini disamarkan menjadi Voltaire.


Voltaire adalah penulis yang produktif, terhitung dari seabrek tulisannya mulai dari drama, puisi, novel, esai, tulisan sejarah dan ilmiah, hingga ribuan surat dan pamflet. Kebanyakan karyanya bercerita seputar reformasi sosial menentang hukum yang sangat ketat mengenai penyensoran media publik, dogma-dogma agama Katolik, hingga kebijakan kerajaan Prancis pada waktu itu. Salah satu karya filosofisnya yang paling termasyhur adalah Philosophical Dictionary (1764) yang menuturkan masalah Pemerintahan Prancis, Bibel, dan Gereja Katolik Roma.


Walaupun karya Voltaire dikemas secara lebih ‘lunak’ dengan nada-nadanya satire, tetap saja karyanya ini mengantarkannya bolak-balik ke penjara, salah satunya ke penjara Bastille yang belakangan menjadi tempat penting dalam Revolusi Prancis. Voltaire sendiri dianggap sebagai salah satu dari tokoh pencerahan yang mempengaruhi Revolusi Prancis.


Pada kisaran abad ke-17 dan ke-18, doktrin Katolik sangat berlimpah dan Voltaire adalah kritikus tajam terhadap doktrin keagamaan ini. Dengan buah pemikirannya Voltaire sering dituduh sebagai atheis, walaupun begitu kebanyakan kritiknya lebih memfokuskan pada tindakan organisasi keagamaan saat itu dibanding konsep keagamaannya itu sendiri. Tulisannya tidak hanya mengkritisi Katolik, tetapi juga agama lainnya, seperti Islam dan Hindu. Dia mengkritik Muhammad sebagai nabi palsu dan sebagai sekte yang barbar. Meskipun begitu, di sisi lain terhadap agama Islam sendiri dia mengatakan Muhammad membawa “agama yang bijak, disiplin, murni, dan humanis.”


Menurut pemikirannya pada Philosophical Dictionary :

Agama ideal haruslah sesederhana mungkin : "Bukankah itu agama yang banyak mengajarkan moralitas dan sangat sedikit dogma? yang condong untuk membuat manusia menjadi adil dan tidak membuat mereka bodoh? yang tidak memerintahkan orang untuk menyakini suatu yang mustahil, bertentangan, merusak nilai-nilai ketuhanan, dan berbahaya bagi umat manusia, dan yang tidak mengancam dengan hukuman neraka kepada siapa saja yang memiliki akal sehat?


Bukankah itu agama yang tidak menegakkan ajarannya melalui pemaksaan, dan tidak menggenangi bumi dengan darah demi sofisme yang tidak terjangkau akal? ... yang hanya mengajarkan pengabdian kepada satu ilah, kepada keadilan, toleransi dan kemanusiaan?"


Tulisan ini saya baca pada Sejarah Tuhan (Karen Armstrong, 1993) dan saya tidak bisa menahan diri untuk memberikan komentar. Latar belakang Voltaire penuh dengan kontroversi dan memang tokoh-tokoh ajaib hidupnya selalu dengan kontroversi. Ali bin Abu Thalib mengatakan, “Perhatikan apa yang dikatakan seseorang, dan jangan memperhatikan siapa yang mengatakan”. Jadi, meskipun banyak buah pemikirannya yang tidak sesuai dengan apa yang saya tahu, saya berusaha mengikuti saran Ali bahwa ada beberapa pernyataannya pada definisi mengenai "agama yang ideal" yang sesuai dengan apa saya tahu.


Pertama, bahwa agama yang ideal sangat sedikit dogma. Dogma adalah kepercayaan atau doktrin yang sudah disepakati oleh masyarakat keagamaan, yang dianggap autoritatif dan seragam, tidak dapat dipertanyakan ataupun disangkal. Banyak dogma yang dapat kita telusuri lebih jauh yang ternyata awalnya lebih merupakan kesepakatan bersama. Salah satu contoh dogma pada agama Islam yang terstandardisasi di Indonesia adalah mengenai nama sepuluh malaikat, yang bila ditelusuri lagi ternyata tidak semuanya tertulis pada Al-Quran dan Al-Hadits. Menurut beberapa sumber, nama Jibril, Mikail, dan Malik tercantum di Al-Quran; Israfil, Munkar, Nakir, dan Ridwan tercantum di Al-Hadits, sedangkan Raqib, Atid, dan Izrail tidak tercantum sedikitpun pada kedua sumber utama ini. Kalau ditelusuri dari sejarah, kemungkinan nama malaikat ini merupakan hasil kesepakatan umat islam masa itu yang salah satunya diadopsi dari kisah-kisah Israiliyat pada saat umat Islam dan Yahudi hidup berdampingan pada masa kekhalifahan Islam.


Dengan perkembangan teknologi informasi saat ini, dogma agama saya rasa sudah menciut drastis di Dunia Barat dan mulai berkurang di Dunia Timur. Di Dunia Barat misalnya, novel Da Vinci Code karya Dan Brown menghebohkan doktrin Trinitas Gereja dan menimbulkan keinginan orang untuk meneliti lebih jauh mengenai fakta sebenarnya yang terkandung pada novel ini. Sejarah dan pemikiran akan terdistribusi dengan mudah dan tentunya orang akan mudah memilih pemahaman keagamaan yang sesuai dengan kemampuan dan kemauan pribadinya. Maksudnya, pencarian terhadap pemahaman agama sudah pasti akan lebih terfasilitasi, sehingga menyebabkan distorsi informasi akan semakin mengecil dan dogma yang turun-temurun dapat ditelusuri asal muasalnya. Seperti pada contoh nama-nama malaikat di atas, kita jadi berusaha mencari tahu asal muasal penamaan malaikat ini dan mau tidak mau sedikit belajar sejarah Islam. Dari sini, kita dapat lebih memahami keberagaman pemahaman kita terhadap agama.


Kedua, bahwa agama yang ideal tidak menegakkan ajarannya dengan pemaksaan dan menggenangi bumi dengan darah demi keyakinan. Kita harus berbesar hati bahwa keagamaan kita masih jauh ‘panggang dari api’ melihat kenyataan bahwa diskusi antaragama dan intraagama tidak jarang berubah menjadi pemaksaan. Dalam intraagama Islam saja, ada konflik global seperti Sunni versus Syi’ah, konflik khas Indonesia ala NU dan Muhamadiyah, sampai konflik nasional modern, yaitu FPI versus Ahmadiyah. Beberapa hari ini misalnya, Menteri Agama RI melakukan sebentuk pemaksaan dengan mengirimkan utusan untuk menyatakan “salah” kepada pihak masyarakat yang ber-Idul Fitri tidak sesuai dengan tanggal yang ditentukan pemerintah.


Mendukung ketidaksepakatan mengenai segala bentuk pemaksaan, definisi ‘agama yang ideal’ versi Voltaire juga mengandung nilai-nilai universal: keadilan, toleransi, dan kemanusiaan. Nilai universal ini diakui oleh semua ajaran agama, hanya saja pada praktek keberagamaan di Indonesia akhir-akhir ini toleransi kalah nilai dengan penegakkan akidah yang ‘kaku’. Pemaksaan yang mengarah ke kekerasan fisik menjadi sering terjadi dalam masyarakat Islam di Indonesia saat ini, terakhir pada kasus tawuran FPI dan massa Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKK-BB) bulan Juni kemarin.


Menurut Khaled Abou El-Fadl pada Cita dan Fakta Toleransi Islam; Puritanisme versus Pluralisme (2003), sikap intoleran muncul dari kelompok ekstrimis puritan yang secara signifikan memiliki perbedaan pandangan teologis dengan umat Islam yang umumnya cinta damai. Muslim puritan berpegangan pada beberapa ayat Al-Quran tertentu saja untuk mendukung pandangan keagamaan yang eksklusif dan intoleran. Konstruksi keyakinan teologis tersebut didasarkan pada pembacaan Al-Quran secara terasing seakan-akan makna ayat-ayat tersebut sudah jelas dan transparan.


Sebenarnya, Al-Quran berisi nilai universal yang merujuk pada prinsip moral umum seperti kebajikan, kebaikan, keadilan, kemurahan hati, toleransi, dan kesetaraan. Abou El-Fadl berpendapat bahwa tidak ada kebenaran ilahiah di muka bumi, yang ada hanyalah kebenaran sebatas pemahaman kognitif manusia atas petunjuk Tuhan. Pemahaman Al-Quran sepatutnya melampaui penerjemahan literal ke bahasa Indonesia, mengikuti konstruksi moral pembacanya. Jika pembaca melakukan pendekatan terhadap teks tanpa hikmah, pembaca akan terjebak dalam wawasan sempit dan legalistik. Hal inilah yang menyebabkan kalahnya nilai universal ini dengan penafsiran ‘kaku’ pada sebagian masyarakat Islam di Indonesia saat ini.


Emha Ainun Nadjib dalam cerpen Zawiyah di sebuah Masjid bercerita tentang Tokoh Kyai yang bertanya kepada murid-muridnya tentang bagaimana menghubungkan keyakinan dengan keadaan masyarakat di mana kita bertempat tinggal. Murid-muridnya menjawab bahwa dakwah dan pergerakan dengan tujuan kebenaran berlaku hanya apabila diletakkan pada maqam yang juga benar, di antara kutub kaku dan kutub lembek, yaitu kelenturan. Artinya, dalam beragama yang ideal kita sepatutnya bersikap lentur. Mungkin inilah yang bisa menjawab permasalahan masyarakat Islam di Indonesia saat ini.


Dari definisi Voltaire saat ini kita berangkat berpikir bahwa ‘Agama yang Ideal’ harus sesederhana mungkin. Dengan semua perkembangan saat ini, memahami kesederhanaan beragama akan ikut berkembang pula, asal kita memang mau berkembang mencarinya..