5 Januari 2009

OPW: Otak dan Pikiran (Bagian III)

Fungsi otak yang paling diketahui masyarakat secara umum saat ini adalah untuk berpikir. Meskipun begitu, hampir semua ahli sejarah sepakat bahwa berabad-abad sebelum otak dianggap sebagai tempatnya proses berpikir, jantung lebih dianggap sebagai organ lebih penting dan berkaitan dengan proses berpikir. Orang Mesir pada masa lalu beranggapan bahwa jantung adalah organ tempat jiwa bersemayam, pusatnya kecerdasan dan perasaan. Pada proses mumifikasi, jantung dan organ lain di dada sang calon mumi akan dipertahankan dan ikut dibalsem dan organ otak dibuang dari tengkorak karena dianggap tidak penting ketika sang mumi diawetkan. Secara umum, ahli sejarah berpendapat ide bahwa jantung yang sebagai organ berpikir adalah arus utama hingga era Renaissance Eropa.

Hingga saat ini, proses berpikir memang terbukti terjadi di organ yang bernama otak. Seiring dengan perkembangan ilmu anatomi dan fisiologi manusia, ternyata otak juga bertanggung jawab pada berbagai proses lainnya yang juga tidak kalah rumit. Dengan perkembangan ilmu neuroscience saat ini, berbagai penemuan struktur dan fungsi bagian otak membantu kita memahami berbagai macam fenomena seputar manusia. Paul MacLean berpendapat ada tiga bagian otak dalam kepala manusia, masing-masing mewakili lapisan evolusi yang berbeda. Paradigma ini disebut konsep "Triune brain.”

Reptilian Complex

Bagian pertama, yaitu otak primitif (reptilian complex) atau otak basal meliputi batang otak dan otak kecil (cerebellum). Batang otak mengendalikan fungsi vital kehidupan, seperti sistem jantung pembuluh darah dan pernafasan. Otak kecil berfungsi mengintegrasikan persepsi indera, selain juga koordinasi dan kendali gerakan. Bagian ini juga berperan dalam kesadaran dan mengatur siklus tidur dan tetap aktif meskipun dalam fase tidur yang dalam. Gangguan pada batang otak dapat menimbulkan gangguan yang serius dan mengancam jiwa.

Kematian klinis ditentukan dari berhentinya aktivitas batang otak sehingga tidak adanya refleks batang otak dan pernapasan spontan. Pada kasus mati batang otak, denyut jantung dan pernafasan masih terjadi meskipun akan berhenti segera setelah alat pendukung kehidupan (ventilator) dihentikan. Di negara maju, saat ini wacana yang berkembang adalah donor organ dari pasien mati batang otak ke pasien penerima. Di Indonesia, wacana yang berkembang mengenai etika penghentian alat pendukung kehidupan pada kasus mati batang otak (euthanasia), misalnya pada kasus artis terkenal Sukma Ayu. Menurut seorang saudara yang pernah tinggal di Jepang, ada rumah sakit di Jepang yang memiliki bangsal khusus yang merawat pasien mati batang otak. Meskipun sudah bertahun-tahun, alat pendukung kehidupan tetap dioperasikan dan keluarga pasien dapat berkunjung menjenguk pasien yang sudah tidak mungkin ‘hidup‘ ini!

Sistem limbik

Bagian kedua, yaitu otak menengah meliputi sistem limbik. Bagian ini mengendalikan emosi dan insting, makan, bertarung atau lari, pembentukkan memori, dan perilaku seksual. Ketika bagian otak ini di-’setrum’ ringan, berbagai macam jenis emosi terjadi : takut, marah, sedih, senang, gembira, dan sakit. Sistem limbik ini cenderung menjadi landasan penilaian kita terhadap sesuatu, apakah baik atau tidak, tidak peduli apakah benar atau salah.
Kalau pernah nonton karakter Drew Barrymore dalam film “50 First Dates“ atau karakter utama film “Memento“, mereka memerankan tokoh yang mengalami “anterograde amnesia“, yaitu tidak ingat apa yang terjadi setelah kecelakaan yang menyebabkan amnesia ini. Trauma ini menyebabkan  gangguan pada  “hippocampus“ yang merupakan bagian dari sistem limbik. Hippocampus ini berperan dalam pembentukan memori jangka panjang sehingga kerusakan ini menyebabkan memori jangka panjang yang baru tidak terbentuk, meskipun memori yang sudah ada sebelumnya tidak terganggu.

Neocortex

Bagian ketiga, yaitu otak tertinggi, meliputi neocortex atau otak besar (cortex cerebri). Pada manusia, cerebrum terbagi menjadi dua (hemisfer kiri-kanan) dan massanya mencapai dua pertiga total massa otak. Fungsi kognitif yang lebih tinggi pada manusia terjadi pada cerebrum dan berpengaruh pada kemampuan rasional seseorang, termasuk kemampuan menerima rangsang panca indera, memahaminya, menganalisa, dan merespon secara motorik. Hemisfer kiri mengatur bagian tubuh kanan, sebaliknya hemisfer kanan mengatur bagian tubuh kiri. Pada manusia terjadi lateralisasi fungsional hemisfer otak, kecenderungan hemisfer kanan lebih dominan pada kemampuan spasial, pengenalan wajah, musik, dan imajinasi abstrak; sedangkan, hemisfer kiri dominan pada bahasa, matematika, dan logika. Kedua hemisfer ini bekerja sama, terhubung dan bertukar informasi melalui “corpus callosum“.

Para ahli banyak mendapatkan informasi mengenai spesialiasi fungsi hemisfer ini dari operasi pemotongan corpus callosum. Jenis operasi ini dilakukan pada kasus epilepsi, yaitu untuk mencegah penyebaran serangan epilepsi dari hemisfer satu ke hemisfer lain. Pernah dengar yang ada tangan yang beraktivitas tanpa keinginan pemiliknya, atau disebut “alien-hand syndrome“? Pada kasus ini, tangan seseorang bergerak tanpa sadar dan memaksa orang ini menggunakan tangan sehatnya untuk mencegah aksi tangan aliennya. Kita bisa melihat penggambaran kasus ini pada tangan alien yang tiba-tiba mencekik leher sendiri seperti dalam film “Dr. Strangelove“. Hal ini terjadi karena putusnya komunikasi antara hemisfer kiri dan kanan melalui corpus callosum.

***

Berdasarkan konsep "triune brain", setiap bagian berfungsi seperti komputer yang saling terhubung, masing-masing dengan intelegensi, subjektivitas, dan memori yang tersendiri. Hipotesis ini membuat kita berpikir kembali bagaimana otak bekerja. Kalau sebelumnya kita berasumsi bahwa otak tingkat tertinggi, neocortex mendominasi otak tingkat lainnya, hipotesis ini menunjukkan bahwa kejadiannya tidak selalu seperti itu. Misalnya sistem limbik yang mengatur emosi, dapat mempengaruhi fungsi mental bagian neocortex ketika kita sedang marah atau takut. Hal yang berbau dogmatis dan paranoid misalnya, yang memiliki basis fisik pada sistem limbik, dan sering kali lebih dominan daripada proses berpikir rasional.

Dengan perkembangan ilmu neuroscience yang sangat pesat, sebenarnya konsep "Triune brain” ini mulai dianggap kadaluwarsa dan banyak sanggahan yang diajukan oleh berbagai riset terbaru. Kalau kita lihat di wikipedia, artikel mengenai teori ini banyak mengalami revisi. Hal ini wajar, mengingat neuroscience masih muda dan banyak hal-hal yang masih menunggu untuk ditemukan. Yang pasti, ke depannya makin banyak penemuan lain seputar otak dan cara kerjanya yang akan membuat kita harus meredefinisikan lagi pemahaman kita mengenai banyak hal.

Omong-omong tentang otak yang berpikir, saya jadi ingat sebuah anekdot tentang otak orang Indonesia di internet. Konon otak orang Indonesia sangat digemari dan jadi rebutan di antara calon penerima donor otak manusia. Di bursa pasar gelap, harga otak manusia Indonesia dikabarkan paling tinggi. Setiap ada persediaan hampir bisa dipastikan langsung laku terjual. Orang-orang pun heran. Mengapa bukan otak orang Yahudi yang terkenal cerdas-cerdas itu yang diburu? Mengapa bukan otak orang-orang Jepang, yang tersohor memiliki kemampuan tinggi dalam bidang teknologi, yang diperebutkan? Atau, mengapa tidak otak orang Cina yang sudah dikenal luas lihai berbisnis? Mengapa justru otak orang Indonesia? Setelah dilakukan semacam penelitian, ternyata persepsi para penerima donor otak dalam menentukan pilihan bukan pada standar umum seperti asumsi di atas. Jawab mereka: “Habis, otak orang Indonesia rata-rata masih MULUS. SOALNYA JARANG DIPAKAI!” :)

24 Desember 2008

Otak-Pikiran-Jiwa (OPW): Pikiran dan Tubuh (Bagian II)

Ada seorang teman yang menanggapi tulisan sebelumnya bahwa kekuatan pikiran positif bisa membuat seorang manusia menjadi sehat dan terlindung dari penyakit. Saya langsung teringat idiom terkenal mens sana in corpore sano, yang diartikan secara umum : di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat, begitu pula sebaliknya.

Mens sana in corpore sano diambil dari sebuah drama masa Romawi ini mengalami sedikit perubahan redaksional, kata-kata persisnya adalah “orandum est ut sit sit mens sana in corpore sano.” Satire (sindiran) ini diartikan, “Akan didoakan semoga di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat.” Sindiran ini dimaksudkan untuk mengingatkan penduduk Romawi masa itu, bahwa korelasi positif antara tubuh dan jiwa bukanlah sesuatu yang otomatis terjadi, tetapi merupakan sesuatu yang harus diusahakan.

Kembali ke topik, mari kita ngobrol kembali ke hubungan bolak-balik antara pikiran dan tubuh. Kita pasti sering mendengar bahwa pikiran dapat mempengaruhi tubuh, misalnya penyakit maag dan alergi ada kaitannya dengan stress. Depresi juga akan menurunkan imunitas, salah satunya dengan produksi berlebih hormon kortison yang menghambat perkembangbiakan sel limfosit, yaitu komponen penting dalam sistem imunitas kita. Jadi, dalam kehidupan sehari-hari kita sudah sering mendengar bahwa pikiran mempengaruhi tubuh.

Begitu berpengaruhnya hubungan antara pikiran dan tubuh. Ada beberapa cerita menarik lain mengenai hubungan bolak-balik antara pikiran dan tubuh. Misalnya, dari sisi medis ada penyakit yang disebut dengan pseudocyesis (kehamilan palsu). Selain itu, dari sisi psikologi kita akan ngobrol sedikit tentang multiple personality (kepribadian ganda).

Pseudocyesis
Dari dunia medis, semenjak 300 SM sudah ada sumber tertulis mengenai sebuah gangguan bernama pseudocyesis, atau kehamilan palsu. Simptom pseudocyesis sulit dibedakan dengan kehamilan pada umumnya : perut membesar dan payudara berikut putingnya membengkak. Mual, muntah, ‘ngidam‘ terjadi dan menstruasi berhenti pada masa ‘kehamilan’ ini.

Seperti layaknya kehamilan pada umumnya, sembilan bulan kemudian wanita yang mengalami pseudocyesis akan mengalami perut ’mules’ seperti layaknya proses kelahiran normal. Sebenarnya tidak ada janin dalam kandungan wanita ini, meskipun ada juga ahli kandungan yang terkecoh oleh hal ini. Bila dilakukan USG, tidak ada tanda kehidupan janin dalam perut wanita ini dan bila dilakukan pembedahan, yang dikeluarkan hanya kumpulan lemak yang membesar.

Apa yang menyebabkan pseudocyesis? Berdasarkan salah satu teori, pseudocyesis disebabkan oleh konflik emosi. Keinginan yang kuat untuk segera hamil atau ketakutan akan kehamilan dapat menciptakan konflik internal. Hal ini membuat ptuitari mengubah keseimbangan hormon kewanitaan (LH dan FSH) dan berakibat tubuh mengalami proses perubahan seperti layaknya kehamilan normal.

Pengaruh pikiran pada wanita pseudocyesis mengubah tubuhnya secara ekstrim sehingga menjadi seakan-akan hamil. Mempertimbangkan segi kultural, hal ini menjelaskan angka probabilitas kejadian pseudocyesis sekitar 1:200 pada abad ke-17 menjadi 1:10.000 pada abad ke-20. Pada abad 17-an kehamilan wanita menikah sedemikian penting sehingga menjadi tekanan sosial budaya bila seorang wanita tidak segera hamil setelah menikah. Hal ini tidak terjadi pada abad ke-20 saat ini.

Ada sebuah laporan kasus medis (sekitar 1930-an) yang menyatakan bahwa satu minggu setelah pembedahan perut wanita pseudocyesis untuk mengambil kumpulan lemak perutnya, pasien kembali lagi dengan perut yang bahkan lebih besar. Bahkan kali ini wanita tersebut mengaku dia mengandung anak kembar!

Kepribadian Ganda
Pernahkah anda menonton film Fight Club? Bagi anda yang suka film model indie sejenis ini, mungkin anda ingat bahwa film ini yang bercerita seputar hubungan aneh antara pemeran utama tanpa nama (Edward Norton) dengan Tyler Durden (Brat Pitt) yang tukang berantem. Akhir film ini sangat mengejutkan ternyata dua orang yang berbeda itu adalah orang yang sama tetapi mengalami kelainan kepribadian ganda (multiple personality disorder). Sang pemeran utama tidak menyadari bahwa Tyler Durden adalah dirinya sendiri.

Kelainan kepribadian ganda (multiple personality disorder) adalah diagnosis psikitatri yang menggambarkan kondisi tentang seseorang yang memiliki beberapa kepribadian yang berbeda, masing-masing dengan pola persepsi dan interaksi dengan lingkungan yang berbeda antara satu dengan lainnya. Hal ini juga berakibat memori satu tidak aktif ketika kepribadian lainnya sedang mengambil alih. Gangguan kepribadian ganda terjadi di luar efek fisiologis zat kimia atau kondisi medis umum, seperti misalnya yang ditemui pada orang yang mabuk alkohol.

Kepribadian yang berbeda dapat menghasilkan petunjuk fisiologis yang berbeda. Ada beberapa pasien kepribadian ganda yang dapat berubah berbagai aspek fisiknya sesuai dengan kepribadian yang sedang aktif. Hal ini terjadi misalnya pada parameter visual, pribadi satu mengalami rabun jauh, sedangkan pribadi lain mengalami rabun dekat. Lebih ekstrim lagi, mata biru dapat berubah menjadi warna coklat setiap kali terjadi perubahan kepribadian.

Beberapa temuan fisiologis yang berbeda lainnya juga terjadi misalnya pada kasus di mana pribadi satu menderita diabetes dengan kandungan gula darah tinggi, sedangkan pribadi lain memiliki kandungan gula darah normal. Perubahan fisik ini terjadi pada seseorang saat dia mengalami peralihan kepribadian.

***

Dari beberapa cerita di atas, dapat dilihat bagaimana pikiran dapat mempengaruhi tubuh dari sisi medis dan psikiatri. Masih ada beberapa lagi contoh menarik dari sisi-sisi lain yang akan diceritakan pada tulisan selanjutnya, yaitu OPW : Pikiran dan Tubuh (Bagian III).

21 Desember 2008

Obrolan Seputar Otak-Pikiran-Jiwa (Bagian I)

Beberapa minggu ini pekerjaan membawa saya menyaksikan beberapa operasi bedah otak di berbagai rumah sakit. Jenis kasus ini terjadi salah satunya disebabkan perdarahan di otak. Hal ini membutuhkan tindakan operasi darurat untuk menyelamatkan hidup pasien. Sekian kali menyaksikan operasi bedah otak memberikan saya kesimpulan bahwa pembedahan otak memerlukan standar dan prosedur yang paling rumit. Kalau rata-rata pembedahan jenis lain periode operasi selama tiga jam sudah terasa lama, pembedahan otak sedang bisa memakan waktu hingga 8 jam. Malah pernah saya dengar ada pembedahan otak yang dilakukan non-stop pada skala hari, lebih dari 24 jam!

Otak memang disebut-sebut sebagai organ manusia paling rumit di jagad raya. Sekitar 100 miliar sel neuron di dalam otak manusia dihubungkan dengan masing-masing 10 ribu sambungan synaps satu sama lain. Dengan massa sekitar 2% dari berat tubuh (sekitar 1,4 kg) saja, otak mendapatkan 20% aliran darah tubuh. Demikian tinggi kebutuhan hidupnya sehingga bila tidak mendapatkan oksigen selama 3 menit saja, sel-sel saraf pada otak akan mulai mati.

Mati secara medis didefinisikan sebagai berhentinya aktivitas otak. Meskipun denyut jantung sudah berhenti, asal otak belum mati seseorang masih dikatakan hidup. Sebaliknya, seseorang dapat dikatakan sudah mati bila otak sudah berhenti aktivitasnya padahal masih ada pernafasan dan detak jantung misalnya menggunakan alat pendukung kehidupan. Hal ini dapat dilihat di rumah sakit pada pasien mati batang otak yang ‘hidup’ dengan bantuan ventilator atau dengan bantuan mesin pengganti jantung paru. Segera setelah alat pendukung kehidupan ini dihentikan, keseluruhan aktivitas kehidupan orang yang mati otak akan berhenti.


Otak dikaitan dengan fungsinya yang sangat rumit. Sementara ini, manusia masih sangat sedikit mengetahui tentang cara kerja otak. Awalnya kita mengkaitkan tingkah manusia yang tidak biasa dengan Mistisisme seperti dengan istilah sejenis ‘kesurupan’. Selanjutnya kita mengenal Psikologi yang berusaha menjelaskan hal-hal seputar pikiran dan perilaku. Lima puluh tahun terakhir, Neuroscience berkembang mengurusi hal-hal seputar otak berkembang sangat pesat. Hal-hal ini adalah upaya manusia memahami otak, pikiran, dan jiwa.


Secara biologis, fungsi otak adalah untuk mempromosikan keberlangsungan kehidupan hewan yang memilikinya (termasuk manusia). Mulai dari fungsi otonom, seperti respirasi dan denyut jantung hingga fungsi sadar seperti makan, reproduksi, atau berpindah tempat, semuanya dilakukan dengan kendali dari otak dan jaringan saraf.


Pada manusia, fungsi otak ini berkembang, tidak hanya mengurusi hal-hal dasar meningkatkan keberlangsungan kehidupan individu saja. Manusia mulai dapat menggunakan otaknya untuk ‘berpikir’, menghasilkan kebudayaan, dan membangun peradaban. Dari sudut pandang psikologi, fungsi paling penting dari otak adalah sebagai struktur fisik yang melandasi pikiran dan perilaku.


Akhirnya, keberadaan jiwa dikorelasikan dengan organ otak. Jiwa (soul), ‘kesadaran’ (consciousness), ke-aku-an (the self), kepribadian (personality) adalah topik-topik yang dahulu dikaitkan dengan agama dan filosofi. Sekarang hal-hal ini diteliti secara mendalam pada ilmu neuroscience yang berkembang cepat.


Pada beberapa tulisan ke depan, saya mencoba obrol-obrol beberapa hal seputar otak, pikiran, dan jiwa. Karena benda-benda ini (kalau boleh disebut sebagai benda) menyentuh berbagai area multidisiplin, saya ingin mengatakan dari awal bahwa saya tidak memiliki kompetensi formal untuk disiplin yang berkaitan. Apa yang dipaparkan ini tidak lebih dari hasil cari-mencari dari berbagai sumber tertulis yang dapat saya cerna. Jadi, bila sakit berlanjut, mohon hubungi dokter. Mari kita obrol-obrol tentang wacana seputar Otak-Pikiran-Jiwa.