15 April 2008
Bertrand Russell
seem worth stating, and to end with something so paradoxical that no
one will believe it.
23 Maret 2008
Cinta Laura dan Ahmad Mushaddeq
Ada beberapa hal yang perlu ditelaah kembali dalam menyikapi perbedaan. Misalnya saja pada cerita yang terdengar sepele seperti logat ‘kebarat-baratan’ Cinta Laura Kiehl (baca : Cincha Laura Kiehl). Logat bicara dan campuran bahasa Inggris-Indonesia yang digunakan ketika berbicara di depan publik terdengar ‘berbeda’. Beberapa orang yang saya temui, sadar atau tidak, sering membuat bahan ejekan terhadap logat nona cantik keturunan Jerman-Indonesia ini berbicara. Pertama kali mendengar Cinta Laura bicara ternyata memang membangkitkan kegelian siap untuk menertawakan.Kasus mirip seperti kisah Cinta Laura, saya pernah menemukan seorang teman Korea yang pernah tinggal beberapa tahun di Amerika Serikat untuk wajib militer. Teman-teman sesama Korea menertawakannya saat beliau berbicara dalam bahasa Inggris dengan dialek Inggris Amerika di lingkungan Korea. Sepertinya memang sangat mengganggu menemui perbedaan di tengah lingkungan sendiri, apalagi bila perbedaan itu berasal dari golongan yang sama dengan kita.
Padahal, selama ini saya belum pernah menjadi tertawaan ketika berusaha berbahasa asing dengan logat Indonesia di lingkungan asing. Beberapa waktu lalu saya bertemu dengan orang Indonesia yang sudah tidak terhitung berada di lingkungan asing, tetapi dengan bangga menggunakan logat Indonesia dalam berbicara dalam berbagai bahasa asing. Menurut beliau yang penting lawan bicara mengerti mengenai isi yang dibicarakan.
Menyikapi perbedaan membutuhkan keahlian penanganan tertentu. Lebih tepatnya membutuhkan keahlian menangani perasaan hati kita. Mungkin kisah Cinta Laura hanya terdengar lucu dan sepele. Tetapi bila hal sensitif seperti pada agama, hal ini berpotensi menjadi besar dan serius.

Sejak kecil kita sering dibenturkan pada perbedaan ritual tata cara keagamaan keluarga kita dengan orang-orang di lingkungan sekitar. Kadang-kadang memang hanya komentar tipis yang menunjukan bahwa perbedaan itu dianggap suatu yang aneh dan mengganggu, tetapi tidak jarang perbedaan itu dilabeli kesesatan. Ahmad Mushaddeq aliran Al Qiyadah Al Islamiyah itu sesat atau tidak? Katolik atau Kristen? Fundamental atau moderat?
Tidak menyikapi perbedaan seperti seharusnya dapat menimbulkan simptom dunia hitam putih. Dikotomi antara benar salah, baik buruk adalah hal utama di dunia hitam putih. Kenapa begitu? Karena, kalau bukan teman, pasti dia adalah musuh. Karena tentang hidup setelah mati, kalau agama anu masuk surga kalau agama selain anu itu kafir, jadi masuk neraka.
Emha Ainun Najib pernah menulis bahwa malaikat dan setan adalah makhluk pasti, yang satu diperintahkan berbuat baik, yang satu lagi diperintahkan membisiki keburukan pada manusia. Sudah pasti diharuskan melakukan hal ini oleh Tuhan. Sedangkan manusia adalah makhluk kemungkinan, dipersilakan melakukan apa yang ia pilih, tentunya dengan konsekuensinya masing-masing.
Moga-moga kita tidak seperti cerita orang buta yang bertengkar karena perbedaan mendeskripsikan gajah berdasarkan perbedaan bagian tubuh gajah yang terpegang. Manusia hanya bisa memandang dari sudut pandang ia berdiri, jadi mestinya ada bagian-bagian ‘kebenaran’ yang tidak tampak oleh kita dan mungkin terlihat pada sudut pandang orang lain yang berdiri tepat di sebelah kita.
Perbedaan adalah keniscayaan bagi manusia, memang sudah spesifikasinya seperti itu. “Kebenaran sejati” adalah satu dan universal untuk seluruh manusia, tetapi pemahamannnya bersifat personal dan berbeda antara manusia satu dengan manusia lain. Tuhan saja mengizinkan kita untuk memilih, jadi patut dipertanyakan apakah kita berhak menghakimi manusia lain memilih selain dari apa yang kita pilih?
4 Februari 2008
Sarjana Biologi : Mau jadi apa?
Jawabannyapun tidak harus selalu konsisten. Tidak pernah ada larangan menjawab berbeda sampai kita sendiri yang mulai berkiprah selepas pendidikan formal tersebut. Di tengah ketidakkompatibelan output dunia pendidikan dengan kebutuhan pasar (baca : dunia kerja), suatu artikel yang pernah menyatakan hanya 15% saja dari jumlah lulusan sarjana bidang tertentu yang berkiprah di bidang yang sejenis. Dengan tingkat pengangguran mencapai 9.75% (BPS, Feb 2007), sering kita mendengar bahwa mencari pekerjaan adalah hal yang sangat sulit.
Ironisnya, para perekrut SDM internal (Departemen SDM) atau eksternal (head hunter), mengalami kesulitan mendapatkan SDM yang siap pakai untuk industrinya. Ini adalah hal yang sudah saya dengar sejak saya baru lulus dari seorang alumni Biologi lulusan '84 yang mencari bakat untuk perusahaannya. Alasan saya bercerita hal yang sama empat tahun kemudian adalah karena hal ini sedang saya alami sendiri di perusahan tempat saya bekerja.
-----------------------------------------------------
S
Perusahaan tempat saya bekerja saat ini bernama B Braun, perusahaan multinasional produk dan jasa medis, anak cabang dari perusahaan Jerman yang berusia sekitar 169 tahun. Di sub-industri supplier medis yang low profile, B Braun berkembang dengan inovasi, efisiensi, dan kesinambungan yang menjadi bahan bakar pertumbuhannya.
Salah satu divisi besarnya adalah Aesculap, merek yang melegenda di kalangan dokter bedah seluruh dunia, termasuk Indonesia. Setelah bekerja selama dua tahun lebih sedikit, saya dipercaya untuk merekrut anggota tim baru untuk membantu mengembangkan sepotong bagian dari total keseluruhan bisnis Aesculap.
-----------------------------------------------------
Seorang lulusan Biologi di perusahaan sejenis B Braun bisa dihitung dengan jari. Sejauh yang saya tahu, selain saya dan istri saya, yang telah menjadi mantan karyawan perusahaan yang sama dengan saya, ada dua orang lagi sarjana Biologi yang bekerja bersama B Braun. Sedangkan karyawan yang lain kebanyakan adalah lulusan farmasi/apoteker atau manajemen/ekonomi.
Estimasi saya, ada puluhan kalau tidak ratusan ribu slot tenaga kerja yang dapat berkiprah di sub-industri ini. Dari sekitar 300 orang jumlah SDM di perusahaan saya, hanya ada empat alumni Biologi (1,33%). Padahal dengan relatif besarnya kebutuhan SDM yang memiliki pengetahuan dan keahlian Ke-'Biologi'-an di sub-industri ini, seharusnya proporsi Alumni Biologi bisa jauh lebih besar.
Anatomi dan fisiologi hewan/manusia adalah ilmu yang sangat banyak digunakan di bidang ini, selain juga konsep biomolekuler, biologi seluler, biosistematika, dan evolusi. Kesan yang saya dapatkan, pengetahuan dan keahlian di bidang tersebut adalah modal dasar keunggulan kompetitif untuk berkiprah yang setahu saya tidak terdapat di kurikulum pendidikan bidang lain.
-----------------------------------------------------
Tidak lantas lulusan Biologi dapat menjadi lulusan siap pakai di sub-industri farmasi dan alat medis. Cerita ini sesederhana menjelaskan bahwa ada peluang mengembangkan karir di sub-industri farmasi dan alat medis "secara terencana". Bukan hanya karena ketidaksengajaan, apalagi keterpaksaan karena penyerapan SDM Biologi bidang lain juga masih terbatas.
Masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Ketertinggalan lulusan Biologi pada bidang yang dikuasai lulusan lainnya juga tidak kalah banyak. Semuanya berada pada garis start yang relatif sama, tinggal siapa yang bersedia berlari lebih cepat.
Saya tidak perlu menyebutkan pentingnya melakukan aktifitas di luar kurikulum akademis, kan? Kata orang, apa yang kita baca, dengar, dan tonton serta siapa teman kita saat ini menentukan bagaimana kita lima tahun yang akan datang.
Tebakan saya, ada banyak lulusan Biologi lain di industri lain yang mengalami dan merasakan hal yang sama seperti saya sekarang. Semoga sempat terceritakan kepada teman-teman tercinta yang masih mencari tempat berkiprah.
